Meluruskan Mitos Menak Jinggo Melalui Sendratari

Pemkab Banyuwangi dan pemuka masyarakat Osing berupaya meluruskan mitos seputar Menak Jinggo. Ini diupayakan melalui sendratari Banyuwangi Jengkirat Tangi.

oleh Liputan6Diterbitkan 30 Juli 2003, 08:50 WIB
Liputan6.com, Pasuruan: Seorang pemberontak boleh jadi dianggap sebagai pahlawan di daerah asalnya. Tokoh Menak Jinggo, misalnya. Hingga saat ini, Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, dan pemuka masyarakat Osing terus berupaya meluruskan mitos seputar sang Adipati Blambangan--nama Banyuwangi waktu masa lampau--melalui bentuk kesenian. Ini diupayakan melalui pementasan sendratari bertajuk "Banyuwangi Jengkirat Tangi" di Pasuruan, Jatim, belum lama berselang [baca: Jiwa dan Tarian Orang Osing].

Sendratari ini melibatkan ratusan pelajar sekolah menengah umum. Dalam pementasan itu, mereka tampak piawai memainkan alat musik tradisional dan tarian daerahnya. Maklum, kekayaan kesenian khas Banyuwangi tak terlepas dari letak geografis yang berbatasan dengan Pulau Bali. Itulah sebabnya, seniman Banyuwangi juga cukup lihai memainkan alat musik dan tarian asal Pulau Dewata.

Selama ini, dalam sebagian besar pentas kesenian Jawa--ketoprak, wayang, dan sendratari--tokoh Menak Jinggo digambarkan bertampang buruk, bersifat jahat, dan berjiwa pemberontak. Ini seperti yang ditulis dalam Serat Damarwulan gubahan seorang pujangga kerajaan Mataram. Konon, mitos tak sedap itu telah berlangsung selama beberapa abad. Tak heran, bila Pemkab Banyuwangi merasa dirugikan akan perkembangan legenda buruk tersebut di masyarakat luas. Apalagi, mitos itu mengidentikkan rakyat Banyuwangi sebagai keturunan pemberontak.

Bertolak dari kenyataan itulah, Pemkab Banyuwangi dan masyarakat Osing--penduduk asli setempat--berupaya meluruskan legenda tersebut. Mereka menganggap Menak Jinggo bukan pemberontak. Melainkan pahlawan besar yang memakmurkan rakyat Banyuwangi pada masa lampau. Justru pamannya sendiri, Patih Logender, yang melaporkan Menak Jinggo alias Hurubismo kepada Ratu Majapahit Kencanawungu. Sang paman mengabarkan Menak Jinggo akan membangun kekuatan militer untuk memberontak terhadap Kerajaan Majapahit. Akhirnya, Menak Jinggo dibunuh utusan Majapahit, yang dalam legenda disebut-sebut bernama Damarwulan. Nah, dalam sendratari ini, justru Menak Jinggo yang menang. Dia mengalahkan Patih Logender. Setelah menang, sang Adipati bertekad terus membangun wilayah Blambangan yang kini bernama Banyuwangi.

Perbedaan sudut pandang terhadap sejarah atau suatu legenda memang kerap muncul di sejumlah daerah di Tanah Air. Apalagi, sumber tertulis sejarah belum diketemukan meski ada sejumlah karya sastra kuno. Menyoal legenda Menak Jinggo dan Damarwulan sendiri, hingga kini, para sejarawan maupun antropolog masih bersilang pendapat. Antropolog Eko Punto Hendro, misalnya. Staf Pengajar Universitas Diponegoro, Semarang, Jawa Tengah, ini mengatakan Ratu Ayu Kencanawungu tak lain adalah Ratu Suhita yang memerintah Majapahit pada tahun 1429-1447. Eko juga berasumsi bahwa Damarwulan adalah suami Ratu Majapahit itu.

Lain lagi pendapat seorang sejarawan. Disebutkan, sesungguhnya Tribuana Tunggadewi identik dengan Ratu Kencanawungu. Ratu Tribuana Tunggadewi Jayawisnuwardhani memerintah Majapahit pada 1328-1360. Sedangkan Menak Jinggo adalah Bhre Wirabhumi yang dikabarkan putra Raja Hayam Wuruk dari selir. Wirabhumi ini juga diberikan kekuasaan memerintah di ujung timur Pulau Jawa. Sebagai bukti penghormatan terhadap Menak Jinggo dapat dilihat dari Candi Menak Jinggo yang ada di Desa Trowulan, Kecamatan Trowulan, Mojokerto, Jatim--bekas pusat kekuasaan Kerajaan Majapahit.

Berdasarkan catatan sejarah, rentang waktu kekuasaan dua ratu Majapahit itu memang terjadi berbagai pemberontakan besar. Dari pemberontakan Sadeng (1331) dan Kuti yang dipadamkan Gajah Mada, hingga perang saudara Paregreg (1401-1406) yang melemahkan kekuasaan kerajaan Hindu terbesar di Asia Tenggara itu. Pada perang paregreg, Wirabhumi terbunuh oleh menantu Hayam Wuruk, Wikramawardhana.(ANS/Hansen dan Khodim)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya