Tingkat Kepercayaan Publik Terhadap Joe Biden Menurun Dipicu Peningkatan Inflasi AS

Sebuah survei terbaru menunjukkan rakyat Amerika Serikat (AS) prihatin atas cara Presiden Joe Biden menangani ekonomi, meskipun pemerintahannya berulang kali menyampaikan pertumbuhan ekonomi yang positif.

oleh Tim GlobalDiterbitkan 10 Februari 2024, 07:02 WIB
Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden berdiri di samping Liberty, salah satu dari dua kalkun Thanksgiving nasional, setelah memberikan pengampunan kepada mereka dalam upacara di Halaman Selatan Gedung Putih, Washington, AS, Senin (20/11/2023). (AP Photo/Andrew Harnik)

Liputan6.com, Jakarta - Sebuah survei terbaru menunjukkan rakyat Amerika Serikat (AS) prihatin atas cara Presiden Joe Biden menangani ekonomi, meskipun pemerintahannya berulang kali menyampaikan pertumbuhan ekonomi yang positif.

Hasil survei menunjukkan approval rating (tingkat kepercayaan) masyarakat AS terhadap Biden pada 38 persen Januari 2024 lalu. Persaingan dengan Donald Trump dalam pemilu mendatang pun diprediksi akan semakin ketat.

Wakil Presiden AS Kamala Harris menyampaikan perkembangan perekonomian Amerika Serikat dalam salah satu kegiatan kampanye di South Carolina.

Harris menyampaikan, perekonomian AS mengalami peningkatan di bawah pemerintahan Presiden Joe Biden. Ini ditunjukkan dengan naiknya upah kerja untuk puluhan juta warga Amerika, serta dibukanya 14,5 juta lapangan pekerjaan baru.

"Hari ini, kepercayaan konsumen meningkat, dan belanja konsumen berada pada titik tertinggi. Meski masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan, perlu kami perjelas: ekonomi Amerika terus menjadi yang terkuat di dunia," ujar Harris., seperti dikutip VOA Indonesia, Sabtu (10/2/2024). 

Gubernur Bank Sentral Amerika Serikat, Jerome Powell, yang selama ini menjaga independensinya dari tekanan politik, menyetujui pernyataan Harris.

"Kami merasa inflasi mulai turun. Pertumbuhan ekonomi sejauh ini kuat. Pasar tenaga kerja kuat. Yang sedang kami lakukan adalah mengidentifikasi titik di mana kami benar-benar yakin dengan inflasi, mengembalikannya ke 2%, sehingga kami bisa memulai proses penurunan tingkat pembatasan," ujar Powell.

Pengaruhi Kemungkinan Joe Biden Terpilih Lagi

Dalam kesempatan itu, Presiden Biden menyampaikan bahwa kerja sama antara Indonesia dan Amerika Serikat yang meningkat menjadi kemitraan strategis komprehensif, menandakan era baru kerja sama antarkedua negara dalam berbagai bidang. "Termasuk di dalamnya adalah peningkatkan kerja sama kita dalam hal keamanan," ucap Biden. (AP Photo/Andrew Harnik)

Meski begitu, survei terbaru dari lembaga riset Ipsos menunjukkan adanya peningkatan jumlah masyarakat Amerika yang tidak percaya akan hal itu.

Presiden Ipsos Public Affairs, Cliff Young, menyebut keadaan itu dapat menggerus kesempatan terpilihnya kembali Joe Biden pada pemilu mendatang.

"Posisi Biden melemah saat memasuki 2024. Tingkat kepercayaan publik kepadanya ada pada angka 38% dan itu penting, karena berdasarkan pengalaman kami, seorang pejabat petahana dengan tingkat kepercayaan di atas 40% atau lebih, memiliki kemungkinan lebih dari 50-50 untuk memenangkan pemilu selanjutnya," ujar Young.

Menurut Young, isu yang menjadi perhatian utama para pemilih Amerika adalah ekonomi, bukan persoalan tren yang lebih besar, melainkan hal-hal yang kecil.

Bahan Makanan Lebih Mahal

Pejalan kaki melewati papan nama yang menawarkan uang tunai untuk barang berharga di luar toko gadai di Los Angeles, Jumat (11/3/2022). Laju inflasi AS pada Februari 2022 melonjak ke level tertinggi dalam 40 tahun didorong naiknya harga bensin, makanan dan perumahan. (Patrick T. FALLON/AFP)

Pemilih Partai Demokrat di South Carolina mendukung Biden sepenuhnya pada pemilihan pendahuluan baru-baru ini. Meski begitu, pendukungnya mengaku juga merasakan kesulitan ekonomi seperti yang disebutkan sebelumnya. Salah seorang dari mereka, Saundra Trower mengungkapkan.

"Harga bahan makanan mahal. Lebih mahal dari yang kita lihat selama ini. BBM juga. Tapi yang membuat saya senang adalah suku bunga kredit perumahan sudah mulai turun," ujar Trower.

Pada sisi lain, Donald Trump telah membanggakan keahlian ekonominya saat berkampanye. Namun, mantan presiden Amerika Serikat itu sedang menghadapi empat kasus kriminal, dan putusan perdata atas dugaan penipuan bisnis, di mana Trump dituduh menggembungkan harta kekayaannya secara berlebihan.

Infografis Pidato Joe Biden Tandai Peringatan 1 Tahun Invasi Rusia ke Ukraina. (Liputan6.com/Trieyasni)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya