Sentimen Anti-Jepang Meningkat di China Terkait Pelepasan Air Limbah Fukushima

China saat ini tengah menyaksikan peningkatan kemarahan publik terhadap Jepang setelah Tokyo merilis air limbah radio aktif yang telah diolah dari PLTN Fukushima pada Kamis (24/8) lalu.

oleh Liputan6.comDiterbitkan 30 Agustus 2023, 08:02 WIB
Namun tetap saja bahaya masih membayang-bayangi kelangsungan manusia yang takut akan terpapar. (Kyodo News via AP)

Liputan6.com, Jakarta - China saat ini tengah menyaksikan peningkatan kemarahan publik terhadap Jepang setelah Tokyo merilis air limbah radio aktif yang telah diolah dari PLTN Fukushima pada Kamis (24/8) lalu. Setelah Beijing melarang impor makanan hasil laut dari Jepang, warganet di China kini menyerukan pemboikotan sejumlah produk Jepang.

Sejumlah analis mengatakan Beijing tengah mencoba mengirim pesan ke Tokyo lewat sentimen anti-Jepang yang meningkat tersebut, dikutip dari laman VOA Indonesia, Rabu (29/8/2023).

"Jepang telah merilis air limbah dan hal itu tidak bisa dibatalkan, jadi [membiarkan sentimen nasionalis berkembang] merupakan cara China untuk memperlihatkan kemarahannya," kata Ian Chong, pakar ilmu politik di National University of Singapore kepada VOA dalam sebuah wawancara telepon.

Beijing sendiri kini tengah menghadapi serangkaian masalah domestik, termasuk perlambatan ekonomi, tingkat pengangguran yang memecahkan rekor serta reshuffle mendadak pada personel di bidang kebijakan luar negeri dan militer.

Beberapa pengamat mengatakan pemerintah China berusaha mengendalikan situasi tersebut melalui pengalihan fokus dari pembahasan domestik ke arah isu kesehatan publik yang menjadi kekhawatiran warga China.

"Nasionalisme merupakan alat yang paling mudah bagi Beijing untuk mempersatukan masyarakat, dan isu kesehatan publik seperti ancaman radiasi yang tidak terlihat dan berasal dari luar negeri bisa dimanfaatkan karena diterima baik lintas kelas, geografis, maupun etnis,” kata Wen-Ti Sung, pakar ilmu politik di Australian National University kepada VOA dalam wawancara telepon.

 

Warganet China Murka

Kekhawatiran warga dunia mulai terasa ketika Jepang memutuskan untuk membuang limbah nuklir ke lautan. Tokyo mengklaim bahwa itu aman dan sudah sesuai prosedur dan aturan internasional. (Kyodo News via AP)

Sejak Jepang memulai membuang air limbah tersebut, para warganet di China telah memperingatkan publik agar tidak membeli sejumlah produk asal Jepang, termasuk kosmetik, perlengkapan bayi dan produk untuk hewan peliharaan, dan beberapa jenis makanan. Mereka menganggap produk-produk tersebut mengandung bahan-bahan yang terkontaminasi.

"Daripada harus menghindari sejumlah merek asal Jepang, lebih baik saya tidak membeli semua produk dengan kata 'Jepang' di dalamnya," tulis seorang warganet di situs media sosial terkenal di China, Weibo. Beberapa warganet mendorong publik untuk mendukung produk-produk lokal asal China.

 

Turis Asing Urungkan Niat ke Jepang

Pemandangan dari udara ini menunjukkan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Fukushima Daiichi di Fukushima, Jepang, Kamis (24/8/2023). Operator PLTN Fukushima Daiichi, Tokyo Electric Power Company Holdings TEPCO mulai melepaskan gelombang pertama air radioaktif yang telah diolah ke Samudera Pasifik. (Kyodo News via AP)

Selain dorongan boikot atas produk Jepang yang mewabah di media sosial, media-media China melaporkan sejumlah turis China kini mengurungkan niatnya untuk mengunjungi Jepang, yang telah menjadi salah satu destinasi wisata utama bagi warga China.

Dorongan boikot untuk produk asal Jepang yang meluas membuat konsumen China kini menstok garam karena khawatir air limbah yang dilepaskan ke laut itu dapat mempengaruhi kualitas produk dan membuat garam menjadi langka untuk beberapa waktu ke depan.

Infografis Jepang Peringatkan Potensi Teror di Asia Tenggara. (Liputan6.com/Abdillah)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya