7 Metode Komposter Olah Sampah Organik Rumahan

Sampah organik mencapai 60 persen dari total sampah tak terkecuali di Kota Bandung.

oleh Dikdik Ripaldi diperbarui 17 Mei 2023, 09:00 WIB
Aktivitas pengolahan pupuk kompos dari sampah daun di TPS 3R Ketapang Satpel Lingkungan Hidup Kecamatan Gambir, Jakarta, Rabu (22/2/2023). TPS 3R Ketapang Satpel Lingkungan Hidup Kecamatan Gambir itu dapat mereduksi atau mengurai sampah organik menjadi kompos sebanyak 200-300 kilogram per hari. (Liputan6.com/Faizal Fanani)
Petugas menunjukkan suhu sampah organik di Unit Pengolahan Sampah (UPS) 2 Sukmajaya Depok, Selasa (5/3/2019). Sampah organik yang diolah menjadi pupuk kompos untuk tanaman itu sebagai alternatif permasalahan sampah. (Liputan6.com/Herman Zakharia)

Liputan6.com, Bandung - Sampah makanan yang termasuk sampah organik menjadi sampah harian yang paling banyak dihasilkan Kota Bandung. Dalam sehari, jumlah timbulan sampah sisa makanan di kota ini menembus 675 ton. Masyarakat pun diharapkan dapat mengolah sampah organik di rumah masing-masing, di antaranya menjadi kompos rumahan.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Bandung, Dudy Prayudi mengatakan, banyak metode untuk membuat kompos rumahan. Menurutnya, mengolah sampah organik menjadi kompos bukan hanya dapat mengurangi sebagian besar sampah tapi juga dapat bernilai ekonomis.

"Mengolah sampah organik menjadi kompos bisa menjadikan sampah sebagai bahan bernilai ekonomi. Baik itu secara langsung maupun tidak langsung," kata Dudy dalam keterangannya dikutip Liputan6.com, Selasa, 16 Mei 2023.

Adapun, DLH Kota Bandung mengampanyekan sejumlah metode kompos rumahan di antaranya adalah sebagai berikut:

1. Biopori

Biopori adalah metode kompos yang letaknya di dalam tanah. Biopori dibuat dengan menggunakan pipa paralon dengan diameter 10 cm yang dilubangi kecil-kecil (pori-pori) dan dimasukkan secara vertikal ke dalam tanah sedalam 1 meter.

2. Komposter Karung

Komposter ini cocok untuk yang memiliki banyak sampah organik. Ukurannya berkisar mulai dari 60-200 liter. Jenis sampah yang dimasukkan lebih baik dari hasil kebun seperti daun, ranting, dan sebagainya.

3. Komposter Drum

Paling populer dan cocok digunkan di lahan terbatas ataupun dalam ruangan. Komposter ini menggunakan drum plastik (metal) yang dilubangi untuk mendapatkan sirkulasi udara (aerob).

4. Komposter Pot atau Gerabah

Gerabah memiliki sifat yang menghasilkan oksigen sehingga memberikan sirkulasi udara yang lebih baik dibanding memakai plastik. Saat kompos pada gerabah sudah penuh bisa langsung dipanen.

5. Lodong Sesa Dapur (Loeseda)

Mirip seperti model biopori, metode loseda ini dibuat dengan pipa berlubang setinggi 120 cm dn ditanam di kedalaman 30-40 cm. Loseda sangat populer di Kota Bandung.

6. Eco-Enzyme

Hasil dri permentasi limbah dapur organik, seperti ampas buah dan sayuran, gula (gula merah, gula coklat atau gula tebu), dan air. Hasil akhir dari Eco Enzyme adlh cairan berwarna kecoklatan dengan aroma asam segar yang bisa digunakan sebagai permbersihan rumah, pupuk, insektisida dan lain-lain.

7. Keranjang Takakura

Pertama kali dikenalkan oleh Toji Takakura di Surabaya. Komposter ini menggunakan keranjang cucian bekas yang berlubang dan dilapisi kardus bekas.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya