Menjaga Alam dan Lestarikan Lingkungan adalah Ibadah yang Mulia

Hubungan manusia dengan alam intinya adalah bahwa semesta.

oleh Liputan6.com diperbarui 03 Mei 2023, 20:04 WIB
Ahmad Najib Burhani, peneliti di Badan Riset dan Inovasi nasional (BRIN). (Liputan6.com/ ist)

Liputan6.com, Jakarta - Umat muslim diajarkan tentang kebijaksanaan, saling mengasihi dan menyayangi semua makhluk ciptaan Tuhan, termasuk dengan alam. Karena alam semesta adalah tempat manusia hidup, sehingga sudah sepatutnya manusia bertanggung jawab untuk menjaga kelestariannya.

Hal itu disampaikan oleh Ahmad Najib Burhani, peneliti di Badan Riset dan Inovasi nasional (BRIN) saat membedah Buku Pedoman Hidup Islam Warga Muhammadiyah pada program 'Inspirasi Sahur' yang ditayangkan oleh akun Youtube BKN PDI Perjuangan pada Rabu (19/4/2023) dipandu oleh Mirza Ahmad.

"Hubungan manusia dengan alam intinya adalah bahwa semesta, lingkungan hidup di sekitarnya itu perlu untuk dijaga, perilaku tersebut dalam Islam bahkan tercatat sebagai ibadah yang mulia," ujar Najib.

Wakil Ketua Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) PP Muhammadiyah itu menekankan, sudah selayaknya manusia senantiasa melakukan kebaikan bagi lingkungan dan alam yang telah memberikan banyak manfaatnya kepada umat manusia.

Kesadaran seperti ini sangat penting ditanamkan untuk keberlangsungan hidup di masa yang akan datang. Jika itu dilakukan, maka menurut Najib itu sudah termasuk dalam bentuk ibadah yang mulia.

"Jadi alam ini bukan tak terbatas, melainkan harus diwariskan kepada anak cucu kita yang mereka itu akan membutuhkan air, udara yang segar dan sebagainya. Pedoman itu yang perlu ditekankan bagi umat beragama," kata Najib.

Lebih lanjut Najib memaparkan latar belakang penulisan buku berjudul Pedoman Hidup Islam Warga Muhammadiyah adalah sebagai respon atas dinamika kehidupan meliputi kehidupan pribadi, keluarga, bermasyarakat, berorganisasi, berbangsa dan bernegara.

Di dalamnya itu terdapat upaya melestarikan lingkungan, mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta seni dan budaya.

"Bagaimana kita menghadapi dinamika kehidupan politik, sosial, budaya yang terjadi dengan perubahan dunia yang cepat. Juga bagaimana dengan perubahan di Indonesia yang berbeda, ini diharapkan dapat menjadi pedoman bagi warga Muhammadiyah," jelas Najib.

Adapun, terkait dengan kehidupan bermasyarakat, berorganisasi, berbangsa dan bernegara, Cendekiawan Muslim Muhammadiyah itu menyoroti poin penting yang ada dalam buku tersebut yaitu umat muslim tidak boleh apatis dan berdiam diri terhadap dinamika politik nasional.

"Ada bagian dalam buku tersebut yang menyebutkan bahwa dalam kehidupan sosial, perlu mengambil bagian dan tidak apatis terhadap kehidupan di sekitar, termasuk adalah kehidupan politik," terang pria kelahiran Blitar ini.

Najib menilai, sebagai karya yang diproyeksikan untuk membentuk perilaku individu dan kolektif seluruh anggota Muhammadiyah, isi keseluruhan buku tersebut masih sangat relevan untuk dibaca di masa sekarang ini.

Meskipun demikian, Najib mengkritisi beberapa bagian buku tersebut, misalnya pada pembahasan yang berkaitan dengan kemajuan zaman dan perkembangan teknologi. Pembahasan pada bagian tersebut dinilai perlu untuk lebih dirinci dan disesuaikan dengan perkembangan yang ada saat ini.

 

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya