Dituduh Putin, Korea Selatan Bantah Kirim Senjata ke Ukraina

Pihak Korea Selatan membantah tuduhan Putin yang menyebutkan bahwa Korea Selatan mengirim senjata ke Ukraina.

oleh Benedikta Miranti T.VDiperbarui 28 Oktober 2022, 16:51 WIB
Ilustrasi Korea Selatan (iStock)

Liputan6.com, Seoul - Presiden Korea Selatan Yoon Suk-yeol membantah bahwa Seoul memberikan senjata mematikan ke Ukraina setelah Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan keputusan seperti itu akan menghancurkan hubungan bilateral mereka.

Dilansir Al Jazeera, Jumat (28/10/2022), Vladimir Putin membuat pernyataan itu pada sebuah konferensi di Moskow pada hari Kamis, menuduh Barat menghasut perang di Ukraina dan menekankan bahwa keputusan Korea Selatan untuk memasok senjata ke Ukraina akan menghancurkan hubungan.

"Kami telah memberikan bantuan kemanusiaan dan damai ke Ukraina dalam solidaritas dengan masyarakat internasional tetapi tidak pernah senjata mematikan atau hal-hal semacam itu," kata Yoon kepada wartawan pada hari Jumat, menurut Kantor Berita Korea Selatan Yonhap.

"Tetapi bagaimanapun juga, ini adalah masalah kedaulatan kami, dan saya ingin Anda tahu bahwa kami berusaha menjaga hubungan damai dan baik dengan semua negara di dunia, termasuk Rusia," katanya.

Seoul telah mengirim rompi antipeluru, helm dan perlengkapan militer non-mematikan lainnya serta pasokan medis ke Ukraina dan telah menolak permintaan senjata dari Kyiv, Yonhap melaporkan.

Sekutu Amerika Serikat, Korea Selatan telah menyatakan tidak akan memberikan bantuan mematikan kepada Ukraina dan telah berusaha untuk menghindari permusuhan dengan Rusia, baik karena alasan ekonomi dan pengaruh yang dapat diberikan Moskow atas Korea Utara.

Invasi Rusia

Presiden Rusia Vladimir Putin saat bertemu dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron di Moskow, Rusia, 7 Februari 2022. Vladimir Putin dan Emmanuel Macron berupaya menemukan titik temu atas Ukraina dan NATO di tengah kekhawatiran Rusia sedang mempersiapkan invasi ke Ukraina. (SPUTNIK/AFP)

Invasi Putin ke Ukraina, yang dimulai delapan bulan lalu, telah menewaskan ribuan orang, jutaan orang terlantar, mengguncang ekonomi global dan membuka kembali perpecahan era Perang Dingin.

Pada konferensi di Moskow pada hari Kamis, Putin membela perangnya dan menyalahkan AS dan Barat karena menghasut konflik di Ukraina, menambahkan Barat memainkan apa yang dia gambarkan sebagai permainan geopolitik "berbahaya, berdarah dan kotor" yang  menabur kekacauan di seluruh dunia. dunia .

Putin memiliki pesan ini untuk Korea Selatan: “Bagaimana reaksi Republik Korea terhadap fakta jika kita memulai, jika kita melanjutkan kerja sama dengan Korea Utara di bidang ini?”

Putin: Rusia Bukan Musuh

Presiden Rusia Vladimir Putin saat menghadiri pertemuan dengan para pemenang dan finalis kontes nasional School Teacher of the Year melalui konferensi video pada Rabu, 5 Oktober 2022. (Gavriil Grigorov, Sputnik, Kremlin Pool Photo/AP Photo)

Ketika ditanya apa yang ingin dia sampaikan kepada orang-orang di Eropa dan AS, Putin menjawab bahwa mereka harus tahu bahwa Rusia bukanlah musuh mereka.

“Rusia adalah teman Anda dan kami telah melakukan segalanya selama beberapa dekade dan siap untuk melakukan segalanya di masa depan untuk memperkuat hubungan kami,” katanya.

Putin juga mengkritik AS karena campur tangan dalam perselisihan China dengan Taiwan, yang disebutnya “bertentangan dengan akal sehat dan logika”.

Soal Hubungan Rusia dan China

Presiden Rusia Vladimir Putin. (AFP)

Diplomat top China yang bertugas di Rusia memberikan pujian tinggi terhadap hubungan Tiongkok dan Rusia. Kepercayaan politik kedua negara dinilai semakin mendalam.

Sentimen itu diungkap oleh Charge d'Affaires China di Rusia, Sun Weidong.

"Relasi China-Rusia telah bergerak menuju era baru perkembangan yang cepat selama 10 tahun terakhir. Pada zaman kooperasi dan kemitraan strategis komprehensif ini, kami tak hanya mampu mempertahankan level tinggi (kerja sama) di bawah tuntunan kepala negara kami, tetapi juga memperdalamnya," ujar Sun Weidong, dikutip media pemerintah Rusia, TASS, Kamis (27/10/2022).

"Level kepercayaan politik di antara negara kita leih tinggi dari sebelum-sebelumnya," lanjut Sun Weidong.

Ia juga mencatat bahwa Beijing dan Moskow secara persisten menggenjot interaksi ekonomi, dagang, serta budaya. Pihak China turut mengapresiasi dukungan Rusia kepada China terkait isu Taiwan dan pelanggaran HAM Xinjiang.

Infografis Rusia Vs Ukraina, Ini Perbandingan Kekuatan Militer. (Liputan6.com/Trieyasni)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya