Liputan6.com, Jakarta - Di tengah hiruk pikuk resesi global, pasar modal Indonesia dinilai masih cukup resilient atau bertahan. Sejumlah indikator di dalam negeri dinilai relatif cukup aman menahan angin resesi yang dipicu oleh sentimen negatif dari sejumlah kondisi di luar Indonesia. Investor didorong untuk mampu mengendalikan kepanikan dan kerakusan.
Pada saat bersamaan, Chief Economist PT Bahana TCW Investment Management Budi Hikmat mengatakan pasar modal Indonesia memasuki musim semi. Artinya ada peluang untuk bergerak membaik dan memberikan cuan.
Advertisement
Secara historikal, Budi menyebutkan, semester kedua biasanya market memang mengalami volatilitas. Ia mencermati, selama 15 tahun terakhir, ada kecenderungan pola huruf V pada kuartal III tahun berjalan, serta kecenderungan pasar memerah pada November, kemudian berbalik menjadi hijau pada Desember.
“Apakah tetap tesis ini? Saya sendiri menguji diri dengan investasi saya,” kata dia dalam keterangan resmi, dikutip Senin (18/7/2022).
Meskipun saat ini dunia menghadapi tantangan yang menggoyang ekonomi, Budi memberikan kerangka kepada para pelaku pasar untuk mengukur kepanikan, khususnya dalam pembentukan strategi investasi. Pertama, dinamika global, baik dari segi ekonomi maupun geopolitirk. Kedua, opsi kebijakan domestik serta responsnya. Ketiga, pengambilan posisi oleh investor asing.
"Sebagaimana kejadian pada krisis 2008 dan 2020, apakah para investor asing tersebut dalam keadaan panik sehingga harus menjual portofolionya di Indonesia? Ini perlu kita evaluasi. Acuan untuk cuan, lebih baik mengendalikan kerakusan, cukup rajin ambil untung, built in, dan cegah cut loss," imbuh Budi.
* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.
Kinerja IHSG Perkasa
Professional independent, trader dan investor, Ade Permana setuju Indonesia dikatakan masih relatif jauh dari resesi. Menurut dia, hal itu pun tergambar di performa pasar modal.
Dia menyebutkan, sejak harga tertinggi pada 11 April hingga saat ini, IHSG mengalami koreksi sekitar 10 persen. Sementara pada saat yang sama, indeks Dow Jones yang menunjukkan kinerja pasar modal AS mengalami penurunan lebih dari 19 persen atau hampir 20 persen.
"Artinya dari segi ekonomi, dari segi indeks saham, kita (Indonesia) termasuk yang paling bagus di dunia untuk saat ini. Bahkan di regional pun Indonesia masih perkasa,” ujarnya.
Meski begitu, Dow Jones perlu terus dipantau karena Amerika menjadi salah satu barometer pelaku pasar dalam negeri. Terlebih, sebanyak 60–70 persen investor di pasar modal Indonesia merupakan investor asing.
Indeks selanjutnya yang juga terus dipantau adalah DXY atau indeks dolar serta XAU atau indeks emas. “Kenapa? Karena banyak juga emiten-emiten kita yang listing di bursa efek itu sensitif terhadap pergerakan salah satunya XAU, DXY sama Dow Jones Industrial,” tutur Ade.
Fase Sideways
Direktur PT Kurikulum Saham Indonesia, Alex Sukandar mengatakan, pasar saat ini sedang memasuki fase sideways yang cukup besar, seolah-olah membentuk triangle besar. Sehingga harga terlihat sangat volatile.
Dari sisi performa, sejumlah sektor masih terbilang unggul. Di antaranya IDX Energy (sektor energi), IDX Transportation (sektor transportasi dan logistik), IDX Industry (sektor industri), IDX Health (sektor perawatan kesehatan), dan IDX Noncyc (sektor konsumer non-cyclicals).
Sementara itu, index composite yang sempat bertumbuh, malah menjadi minus. Pelemahan indeks terutama tertekan oleh penurunan IDX Property, IDX Techno, dan IDX Finance. Kendati demikian, Alex menilai investor mewaspadai prospek tiap-tiap sektor pada masa mendatang.
"Kita lihat sektor IDX Energy memang outperformed sekali, 41 peren jauh lebih unggul ketimbang composite itu sendiri. Namun, ada tanda-tanda breakaway gap yang kemungkinan besar adalah penanda terbentuknya tren baru. Begitu juga di IDX Transportation. Nah itu yang perlu diwaspadai," kata dia.
Ke depan, ia mencermati beberapa sektor berpeluang mengalami kenaikan performa meskipun terbatas. Di antaranya IDXHealth, IDX Noncyc, IDX Basic (sektor basic material). Lebih lanjut, Alex menyoroti sektor syariah yang akan menopang pasar di saat terjadi koreksi.
"Jadi memang kalau ketika market terkoreksi, biasanya indeks-indeks saham syariah itu yang survive,” tandasnya.
Kinerja IHSG pada 11-15 Juli 2022
Sebelumnya, laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah pada periode 11-15 Juli 2022. Koreksi IHSG 1,31 persen selama sepekan.
Mengutip data Bursa Efek Indonesia (BEI), ditulis Sabtu (16/7/2022), IHSG melemah ke posisi 6.651,90 dari pekan lalu 6.740,21. IHSG yang melemah juga diikuti penurunan kapitalisasi pasar. BEI mencatat kapitalisasi pasar merosot 0,88 persen menjadi Rp 8.772,66 triliun pada pekan ini. Kapitalisasi pasar susut Rp 78 triliun dari pekan lalu Rp 8.850,22 triliun.
Sementara itu, rata-rata volume transaksi harian bursa naik 0,06 persen menjadi 17.618 miliar saham dari 17.607 miliar saham pada penutupan yang lalu. Sedangkan rata-rata nilai transaksi harian turun 4,1 persen menjadi Rp 10,39 triliun pada pekan ini dari pekan lalu Rp 10,83 triliun.
Selain itu, rerata frekuensi harian bursa merosot 3,31 persen menjadi 1.004.832 transaksi dari 1.039.217 transaksi pada penutupan pekan ini.
Investor asing mencatat aksi beli bersih Rp 56,7 miliar pada Jumat, 15 Juli 2022. Sepanjang 2022, investor asing melakukan pembelian saham Rp 56,90 triliun.
Analis PT MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana menuturkan, pergerakan IHSG masih cenderung dipengaruhi oleh sentimen global selama sepekan. Sentimen itu datang dari inflasi Amerika Serikat yang masih tinggi. Tercatat inflasi Amerika Serikat pada Juni 2022 mencapai 9,1 persen.
“Masih adanya kekhawatiran investor akan adanya perlambatan ekonomi Amerika Serikat dan global juga masih dipengaruhi oleh pergerakan harga komoditas terutama dari sektor energi,” ujar dia saat dihubungi Liputan6.com.
Adapun pada pekan depan, Herditya prediksi, IHSG masih sideways atau mendatar tetapi rawan koreksi. IHSG akan bergerak di level support 6.600 dan resistance 6.767.