Mengenal Mheibes, Permainan Tebak Cincin Khas Ramadhan di Irak

Untuk mempererat tali silaturahmi, sebuah permainan tradisional digelar di Irak setiap Ramadhan. Tim-tim dari berbagai provinsi berkompetisi dalam permainan yang sudah eksis ratusan tahun ini.

oleh Liputan6.comDiperbarui 21 April 2022, 13:54 WIB
Warga Kurdi berkumpul di pasar yang populer di Arbil, Iran untuk bermain permainan tradisional saat Ramadhan salah satunya Mheibes. (Safin Hamed / AFP)

Liputan6.com, Arbil - Untuk mempererat tali silaturahmi, sebuah permainan tradisional digelar di Irak setiap Ramadhan. Tim-tim dari berbagai provinsi berkompetisi dalam permainan yang sudah eksis ratusan tahun ini. 

Mengutip VOA Indonesia, Kamis (21/4/2022), nama permainan tradisional Irak itu mheibes, yang arti sederhananya adalah tebak posisi cincin. Digelar malam hari setelah sholat tarawih, permainan ini pada intinya adalah menebak keberadaan cincin di tangan kelompok saingan.

Permainan dimulai dengan pemimpin salah satu tim secara hati-hati berusaha menyembunyikan cincin di tangan salah satu anggota timnya. Kemudian tim kedua mencoba menemukan cincin itu dengan menebak di tangan mana cincin itu diletakkan.

Setiap tim terdiri dari 21 pemain, yang berarti ada 42 tangan dalam tim untuk dipilih. Ketika sebuah tim mencetak 21 poin terlebih dahulu, tim itu dianggap sebagai pemenang.

Tingkat Lokal hingga Nasional

Pertandingan mheibes dimulai di tingkat lokal, seperti tingkat rukun warga. Para pemenang selanjutnya dipertandingkan di tingkat kota atau desa, kemudian tingkat provinsi dan terakhir tingkat nasional.

Mouhamed Abdul Razak, seorang pemain, menceritakan sejarah permainan ini.

“Permainan mheibes adalah permainan tradisional, biasanya dimainkan di bulan Ramadhan yang penuh berkah. Kami mempelajari permainan ini dari nenek moyang kami. Ini adalah permainan cinta, harmoni, dan kedamaian antara semua tim dan provinsi di Irak, antara Baghdad dan semua provinsi lain di Irak."

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Butuh Keahlian Khusus

Ilustrasi puasa, bulan Ramadan. (Photo Copyright by Freepik)

Permainan mheibes membutuhkan keterampilan khusus dan bukan hanya sekadar menebak. Para pemain harus pandai membaca bahasa tubuh dan ekspresi wajah. Berbagai trik digelar tim lawan untuk mempersulit usaha menebak siapa yang memegangnya.

Jassim Al Aswad, seorang pemain mheibes, yakin, meski saat ini hanya populer di Irak, permainan itu kelak akan menyebar di Timur Tengah.

"Permainan mheibes adalah bagian dari warisan Irak. Permainan ini telah eksis selama ratusan tahun. Kami dulu memainkan ini di gang-gang, dan kemudian berkembang dan menjadi permainan paling terkenal di Irak. Mungkin akan meluas ke negara-negara Arab lainnya suatu hari nanti," jelasnya.

Pada tahun 2020, permainan itu dilarang karena merebaknya virus corona, tetapi tahun ini permainan itu kembali besar di Irak karena kondisi kesehatan masyarakat dan keamanan yang membaik.

Karena tujuan mheibes sekadar memperketat tali silaturahmi, penghargaan untuk pemenangnya bukanah barang mewah atau uang. Yang meraih gelar juara biasanya hanya mendapat baki besar berisi baklava, kue manis cemilan khas Timur Tengah.

 

 

Beda Lagi di Yordania

Ilustrasi puasa, bulan Ramadan. (Photo Copyright by Freepik)

Sementara itu, beda lagi dengan warga Yordania yang memeriahkan bulan suci Ramadhan dengan menghiasi rumah mereka dengan aneka hiasan kerajinan tangan serta lampu dan lentera. Setiap Ramadhan, Aliaa Rabee pasti menyediakan waktu untuk pergi ke sebuah toko di ibu kota Yordania, Amman. Bersama dengan putranya, ia ke sana untuk membeli hiasan Ramadhan yang beraneka warna cerah untuk rumahnya, di antaranya lampu-lampu yang bersinar cemerlang dan lentera kecil keemasan.

Rabee mengatakan menghiasi rumahnya dengan dekorasi semacam itu menjadi semacam pengingat bagi keluarganya mengenai kegembiraan sekaligus nilai-nilai spiritual bulan ini.

Ia menjelaskan,“Ramadhan punya nilai spiritual khususnya sendiri. Ramadhan juga punya suasana yang baik untuk disaksikan bersama dengan anak-anak kita. Saya senang membawa putra saya dan membeli berbagai hiasan ini untuk menandai suasana dan merayakan Ramadhan.”

 

Ramadan Tahun Ini, Warga Mesir Ubah Kebiasaan Belanja

Ilustrasi puasa ramadan. (Photo rawpixel.com Copyright by Freepik)

Di tengah devaluasi mata uang, yang diperburuk oleh kenaikan harga bahan bakar dan pangan global, biaya makan rata-rata dalam bulan suci Ramadan semakin tinggi bagi banyak warga Mesir. Mereka terpaksa mengubah kebiasaan belanja di bulan suci ini. Sebuah pasar tradisional di kawasan permukiman Sayeda Nafisa di Kairo tak pernah sepi pengunjung. Di sana, warga Mesir bisa dengan mudah menemukan kacang-kacangan, buah-buahan kering, dan makanan pokok Ramadan lainnya. Mereka bahkan bisa menemukan berbagai pernak-pernik Ramadan untuk menyemarakkan suasana bulan puasa.

Namun berbeda dengan Ramadan pada tahun-tahun sebelumnya, para pengunjung kali ini umumnya menahan diri sewaktu membelanjakan uang mereka. Paling tidak, itu kata Mohamed Ahmed Tawfiq, yang mengaku cenderung membeli setengah dari jumlah yang biasanya dibeli saat Ramadan.

“Tahun lalu harga sedikit lebih rendah. Tahun ini produk ada, tapi harganya lebih mahal dari tahun lalu. Tahun lalu saya beli satu kilo, sekarang saya beli setengah kilo. Kalau dulu saya beli setengah kilo, sekarang saya beli seperempat kilo," jelasnya.

Selengkapnya di sini...

INFOGRAFIS: Beda Durasi Waktu Puasa Negara-Negara di Dunia (Liputan6.com / Triyasni)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya