Liputan6.com, Jakarta: Penjual balon gas keliling masih dapat dijumpai di berbagai tempat, seperti perumahan dan sekolah. Sebagian anak-anak ternyata juga menggemari balon berwarna-warni yang dapat terbang tersebut. Namun, ada bahaya yang mengiringi sang penjualnya. Tabung gas yang dibawa si penjaja balon dapat meledak sewaktu-waktu bila tak terjamin keamanannya.
Bahaya tersebut disadari pula oleh Paiman, seorang di antara pedagang balon gas keliling. Menurut dia, baru-baru ini, hal tersebut memang menjadi risiko usaha. Sudah lima tahun terakhir ini, Paiman menjalani rutinitas sebagai penjual balon gas keliling. Setiap kali sebelum berangkat menjajakan balon, ia mengaku terlebih dahulu mempersiapkan segala peralatannya dengan teliti. Sementara untuk mendapatkan gas agar balon dapat terisi, ia cukup melakukan sejumlah langkah sederhana. Namun, memerlukan suatu kecermatan.
Pertama, Paiman mencampur soda api, kertas timah, dan air dengan ukuran tertentu hingga tercampur benar serta asap mulai terlihat keluar dari tabung. Kemudian tabung segera ditutup dan disiram dengan air. Setelah itu barulah balon-balon diisi dengan gas. Namun sekali lagi tabung yang telah menjadi panas disiram dengan air. Menurut Paiman, langkah terakhir itu untuk menghindarkan tabung tak meledak.
Memang menjadi penjual balon gas bukanlah pekerjaan yang tak berisiko. Masih segar dalam ingatan ketika sebuah tabung gas balon meledak dan yang menewaskan dua pelajar Sekolah Menengah Umum Negeri 47, Jakarta Selatan, 27 April 2002 [baca: Tabung Balon Gas Meledak, Seorang Pelajar Tewas]. Insiden tersebut jelas diperhatikan oleh Paiman. Itulah sebabnya, ia berupaya tetap hati-hati saat mencampur bahan-bahan yang dapat meledak bila terjadi kesalahan pengukuran.
Setelah balon-balon diisi gas dan diperiksa secara teliti, Paiman pun mulai mengayuh sepedanya pelan-pelan. Dia keluar masuk permukiman menjajakan balon-balon tersebut dan berusaha melayani para pembeli dengan baik.
Paiman enggan meninggalkan pekerjaannya lantaran balon-balon yang dijajakan kerap habis terjual. Dalam sehari, ia dapat menjual balon gas hingga 50 buah. Sementara harga satu balon berkisar antara Rp 1.000 hingga Rp 1.500. Dan semua gambaran tentang bahaya menjadi pedagang balon gas hilang di benaknya manakala membayangkan keuntungan yang bisa ia dapatkan.(ANS/Tri Ambarwatie dan Satya Pandia)
Bahaya tersebut disadari pula oleh Paiman, seorang di antara pedagang balon gas keliling. Menurut dia, baru-baru ini, hal tersebut memang menjadi risiko usaha. Sudah lima tahun terakhir ini, Paiman menjalani rutinitas sebagai penjual balon gas keliling. Setiap kali sebelum berangkat menjajakan balon, ia mengaku terlebih dahulu mempersiapkan segala peralatannya dengan teliti. Sementara untuk mendapatkan gas agar balon dapat terisi, ia cukup melakukan sejumlah langkah sederhana. Namun, memerlukan suatu kecermatan.
Pertama, Paiman mencampur soda api, kertas timah, dan air dengan ukuran tertentu hingga tercampur benar serta asap mulai terlihat keluar dari tabung. Kemudian tabung segera ditutup dan disiram dengan air. Setelah itu barulah balon-balon diisi dengan gas. Namun sekali lagi tabung yang telah menjadi panas disiram dengan air. Menurut Paiman, langkah terakhir itu untuk menghindarkan tabung tak meledak.
Memang menjadi penjual balon gas bukanlah pekerjaan yang tak berisiko. Masih segar dalam ingatan ketika sebuah tabung gas balon meledak dan yang menewaskan dua pelajar Sekolah Menengah Umum Negeri 47, Jakarta Selatan, 27 April 2002 [baca: Tabung Balon Gas Meledak, Seorang Pelajar Tewas]. Insiden tersebut jelas diperhatikan oleh Paiman. Itulah sebabnya, ia berupaya tetap hati-hati saat mencampur bahan-bahan yang dapat meledak bila terjadi kesalahan pengukuran.
Setelah balon-balon diisi gas dan diperiksa secara teliti, Paiman pun mulai mengayuh sepedanya pelan-pelan. Dia keluar masuk permukiman menjajakan balon-balon tersebut dan berusaha melayani para pembeli dengan baik.
Paiman enggan meninggalkan pekerjaannya lantaran balon-balon yang dijajakan kerap habis terjual. Dalam sehari, ia dapat menjual balon gas hingga 50 buah. Sementara harga satu balon berkisar antara Rp 1.000 hingga Rp 1.500. Dan semua gambaran tentang bahaya menjadi pedagang balon gas hilang di benaknya manakala membayangkan keuntungan yang bisa ia dapatkan.(ANS/Tri Ambarwatie dan Satya Pandia)