Menikmati Kemegahan Kerajaan Siak

Kerajaan Siak (1723-1858)) di Pekanbaru, Riau, meninggalkan dua kemegahan, istana dan masjid. Nama Siak konon berasal dari bahasa Arab yang artinya orang alim atau penjaga masjid.

oleh Liputan6Diterbitkan 18 Januari 2003, 08:25 WIB
Siak

Liputan6.com, Pekanbaru: Sejarah mencatat Kerajaan Siak (1723-1858) di Pekanbaru, Riau, adalah kerajaan besar dan ini bisa dilihat dari bangunan istana dan masjid yang megah. Untuk melihat kemegahan Istana Siak bisa ditempuh sekitar empat jam dari Bandar Udara Sultan Syarif Kasim II dan selanjutnya ditempuh dengan menyusuri Sungai Siak menggunakan kapal feri. Baru-baru ini SCTV, berwisata budaya ke sana untuk melihat kebesaran Kerajaan Siak. Selama menyusuri sungai, dari kejauhan Istana Siak sudah terlihat. Istana ini dibangun pada masa pemerintahan Sultan ke-11, Sultan Assayidis Syarif Hasim Abdul Jalil Syaifuddin. Kerajaan siak terletak di Desa Siak Sri Indrapura, Kabupaten Bengkalis, atau 130 km dari kota Pekanbaru. Konon, nama Siak diberikan oleh orang-orang Batak yang merantau melalui jalur sungai yang di pinggirnya banyak terdapat pohon sejenis lada. Tapi, menurut sumber lain kata Siak berasal dari bahasa Arab yang artinya orang alim atau penjaga masjid. Istana Siak memiliki luas 30 m x 15 m dengan 13 ruangan di dua lantai. Lantai dasar memiliki 8 ruangan, dan di lantai dua ada 5 ruangan. Lantai dasar digunakan untuk pertemuan pembesar kerajaan dan juga sebagai tempat menjamu para tamu kerajaan. Lantai dua untuk peristirahatan Sultan. Di lantai dasar diisi dengan seperangkat peralatan istana, tombak kerajaan, payung kerajaan, kursi makan dan mejanya yang terbuat dari kristal tampak tertata rapi. Beraneka macam lampu hias yang menonjolkan suasana asri serta duplikat singgasana kerajaan yang berbalut (sepuh) emas yang disimpan dalam bejana kaca terletak di sudut ruangan lainnya. Dalam ruangan ini juga terdapat sebuah cermin permaisuri yang juga terbuat dari kristal. Di bagian belakang bangunan ada perpustakaan kecil dengan susunan buku dan dokumen yang mulai lusuh. Pada bagian sebelah kanan ruangan, ada sebuah alat musik yang disebut dengan Komet. Alat musik langka itu masih berfungsi dan bisa dibunyikan. Komet ini adalah salah satu bukti kecintaan Kerajaan Siak terhadap musik klasik. Alat musik Komet ini dibeli dari Jerman pada 1889 dengan nomor paten 95.132 saat Sultan lawatan Sultan ke Eropa. Hingga kini Komet yang berdinding kayu berwarna coklat kehitam-hitaman dengan depan kaca ini masih menyisakan 17 buah piringan lagu klasik aliran musik Beethoven, Bach, Bram dan Straus. Konon Komet ini hanya tinggal dua unit di Indonesia yang ada di kerajaan siak dan di Jerman. Di bagian lain bangunan ada ruangan yang digunakan sebagai pengadilan tinggi. Di pengadilan ini setiap kasus diproses termasuk vonis hukuman mati. Uniknya, orang yang divonis bersalah sehabis sidang harus melalui tangga khusus. Begitu juga bila orang itu tidak bersalah juga melalui tangga khusus. Dengan demikian, masyarakat dapat membedakan seseorang bersalah atau tidak melalui tangga tersebut.(YYT/ Sella Wangkar)

Tag Terkait

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya