Liputan6.com, Lamongan: Keluarga Ali Imron melalui kakak kandungnya Ustad Khozin, belum yakin jika Ali Imron, tersangka peledakan bom Bali 12 Oktober silam, itu tertangkap. Alasannya, Khozin yang juga pemilik Pesantren Al-Islam ini tak melihat langsung proses penangkapannya. Ia juga belum mendapat laporan resmi dari kepolisian. Demikian keterangan Khozin di Desa Tenggulun, Solokuro, Lamongan, Jawa Timur, Selasa (14/1).
Seperti diberitakan sebelumnya, Ali Imron yang disebut-sebut sebagai koordinator lapangan peledakan bom Bali dan tersangka lain Mubarok ditangkap di tempat persembunyiannya di Pulau Tanjung Berukang, di lepas pantai Samarinda, Kalimantan Timur, Senin silam. Diperkirakan Ali Imron dan Mubarok akan melarikan diri ke Sabah Malaysia. Pasalnya, Pulau Tanjung Berukang berada di perbatasan Malaysia dan Indonesia [baca: Ali Imron Ditangkap].
Ali Imron adalah adik Amrozi dan Muchlas. Kedua nama terakhir kini berada di tahanan Kepolisian Daerah Bali. Bahkan, Amrozi sebelumnya disebut-sebut sebagai otak peledakan bom yang menghancurkan Paddy`s Cafe dan Sari Club itu. Sedangkan Ali Imron diduga sebagai sopir Mitsubishi L-300 yang belakangan diketahui membawa bom yang meledak di Sari Club di Legian, Kuta.
Ali Imron juga disebut sebagai pemilik tabung PVC yang ditemukan di hutan Dadapan, Lamongan. Tabung-tabung PVC tersebut berisi dua pucuk senjata serbu M16, satu pucuk AR15 tipe A2, dua pucuk Lee Enfield, dua pucuk pistol FN, dan 5.080 peluru yang sebagian besar buatan PT Pindad. Ali Imron diduga masih memiliki sejumlah senjata lain. Untuk itu, polisi masih mengusut keberadaan senjata tersebut.
Sementara itu, Ustad Zakaria yang juga pengurus Pesantren Al-Islam, berharap penangkapan kedua tersangka peledakan bom Bali tersebut tak dikait-kaitkan dengan institusi pesantren. Pasalnya, menurut Zakaria yang pernah menemui Amrozi di Polda Bali, kasus peledakan dan aksi teror yang dilakukan mereka adalah perbuatan individu. Sebelumnya, Pesantren Al-Islam sempat menjadi incaran polisi bahkan beberapa kali digeledah. Maklum, Al-Islam adalah pesantren milik keluarga Amrozi [baca: Tim Investigasi Menggeledah Ponpes Al-Islam].(YYT/Mohammad Kodim)
Seperti diberitakan sebelumnya, Ali Imron yang disebut-sebut sebagai koordinator lapangan peledakan bom Bali dan tersangka lain Mubarok ditangkap di tempat persembunyiannya di Pulau Tanjung Berukang, di lepas pantai Samarinda, Kalimantan Timur, Senin silam. Diperkirakan Ali Imron dan Mubarok akan melarikan diri ke Sabah Malaysia. Pasalnya, Pulau Tanjung Berukang berada di perbatasan Malaysia dan Indonesia [baca: Ali Imron Ditangkap].
Ali Imron adalah adik Amrozi dan Muchlas. Kedua nama terakhir kini berada di tahanan Kepolisian Daerah Bali. Bahkan, Amrozi sebelumnya disebut-sebut sebagai otak peledakan bom yang menghancurkan Paddy`s Cafe dan Sari Club itu. Sedangkan Ali Imron diduga sebagai sopir Mitsubishi L-300 yang belakangan diketahui membawa bom yang meledak di Sari Club di Legian, Kuta.
Ali Imron juga disebut sebagai pemilik tabung PVC yang ditemukan di hutan Dadapan, Lamongan. Tabung-tabung PVC tersebut berisi dua pucuk senjata serbu M16, satu pucuk AR15 tipe A2, dua pucuk Lee Enfield, dua pucuk pistol FN, dan 5.080 peluru yang sebagian besar buatan PT Pindad. Ali Imron diduga masih memiliki sejumlah senjata lain. Untuk itu, polisi masih mengusut keberadaan senjata tersebut.
Sementara itu, Ustad Zakaria yang juga pengurus Pesantren Al-Islam, berharap penangkapan kedua tersangka peledakan bom Bali tersebut tak dikait-kaitkan dengan institusi pesantren. Pasalnya, menurut Zakaria yang pernah menemui Amrozi di Polda Bali, kasus peledakan dan aksi teror yang dilakukan mereka adalah perbuatan individu. Sebelumnya, Pesantren Al-Islam sempat menjadi incaran polisi bahkan beberapa kali digeledah. Maklum, Al-Islam adalah pesantren milik keluarga Amrozi [baca: Tim Investigasi Menggeledah Ponpes Al-Islam].(YYT/Mohammad Kodim)