Maskapai Penerbangan AirAsia X Rugi Rp 84 Triliun

Maskapai penerbangan AirAsia X telah melakukan negosiasi dengan kreditor.

oleh Liputan6.comDiperbarui 13 Oktober 2021, 21:50 WIB
AirAsia menghapus biaya bahan bakar, penumpang dapat lebih hemat ketika berpergian dengan AirAsia.

Liputan6.com, Jakarta Maskapai penerbangan jarak jauh Malaysia AirAsia X, bagian dari grup AirAsia milik taipan Malaysia Tony Fernandes mencatatkan kerugian MYR 24,6 miliar (Rp 84 triliun) pada kuartal II 2021.

Angka tersebut menjadi kerugian kuartal terbesar yang pernah dialami perusahaan. Tercatat pada tahun lalu, kerugian yang dialami AirAsia X adalah MYR 305 juta (Rp 1 triliun).

Melansir dari Forbes, Rabu (13/10/2021), pembatasan perjalanan untuk menghentikan laju penyebaran COVID-19 menjadi penyebab utama AirAsia X merugi. Ini disampaikan perusahaan dalam sebuah pernyataan kepada Bursa Malaysia.

Kerugian diperparah karena adanya biaya provisi sebesar MYR 23,8 miliar (Rp 81,3 triliun) kepada kreditor. Perusahaan mengalami default atau gagal bayar sesuai dengan kontrak yang ditetapkan.

"Kewajiban kontraktual yang menghasilkan provisi akan dibebaskan setelah berhasil menyelesaikan latihan restrukturisasi utang yang diusulkan," jelas manajemen AirAsia X.

Maskapai penerbangan ini telah melakukan negosiasi dengan kreditur. Tujuannya untuk merestrukturisasi utang di tengah meningkatnya kerugian akibat pandemi.

Perusahaan juga mempertimbangkan pengembalian sejumlah armada kepada lessors untuk menghentikan penerbangan yang tidak menguntungkan dan fokus kepada rute-rute tertentu.

Terpukulnya Industri Perjalanan dan Maskapai Penerbangan

AirAsia sediakan layanan antar makanan, AirAsia Food. (dok. Instagram @airasia/https://www.instagram.com/p/CJGuKiHnopB/)

Industri perjalanan dan maskapai penerbangan menjadi yang paling terpukul selama pandemi. Pasalnya, negara-negara di seluruh dunia memilih untuk menutup perbatasan demi mencegah penyebaran COVID-19.

Oleh karena itu, AirAsia Group beralih ke dalam bisnis digital untuk mengatasi kerugian karena pembatasan perjalanan dan permintaan kargo yang menurun.

Fernandes dan mitra bisnisnya, Kamaruddin Meranun, mengambil alih AirAsia pada 2001 untuk menciptakan maskapai dengan biaya rendah. Harapannya perjalanan lewat udara menjadi lebih terjangkau.

Diketahui Fernandes keluar dari daftar 50 orang terkaya Malaysia pada tahun ini. Ia memiliki minat di bidang perhotelan, asuransi, dan pendidikan.

Reporter: Shania

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya