Cegah Kanker Usus Besar dengan Deteksi 10 Tahun Sekali

Kanker usus besar menempati urutan ketiga kasus kanker di Indonesia.

oleh Liputan Enam diperbarui 14 Feb 2021, 22:40 WIB
Ilustrasi Foto Kanker Usus Besar (iStockphoto)

Liputan6.com, Manado - Kanker adalah salah satu pemicu kematian. Melakukan deteksi dini penting guna mencegah timbulnya sel kanker di tubuh. Termasuk deteksi kanker usus besar atau disebut kanker kolorektal.

Kanker usus besar menempati urutan ketiga kasus kanker di Indonesia. Kanker kolorektal menyerang jaringan usus besar san rektum/bagian usus paling bawah sampai anus/dubur.

Kanker kolorektal dapat dideteksi sejak dini dengan kolonoskopi. Demikian poin penting dari penjelasan dr Harlinda Haroen, Sp.PD - KHOM dari edukasi kesehatan yang diselenggarakan Siloam Hospitals Manado melalui Webinar, Kamis, (11/02/2021).

Harlinda Haroen menyarankan agar masyarakat dapat menjalani kolonoskopi setidaknya 10 tahun sekali. Selain deteksi melakui kolonoskopi, turut disarankan setiap tahun melakukan pemeriksaan colok dubur, cek kadar CEA (pertanda tumor) dalam darah, dan tes feses (kotoran tinja)

"Tujuannya untuk mendeteksi adanya polip sejak dini agar pertumbuhan sel abnormal bisa ditanggulangi sebelum menjadi kanker," jelas dr Harlinda Haroen, Sp.PD - KHOM., yang berpraktek tetap di Siloam Hospitals Manado.

Mendeteksi adanya polip merupakan langkah utama. Ketika polip sudah berubah ganas, biasanya muncul gejala sebagai berikut;

- Berdarah saat buang air besar

- Diare dan sembelit tanpa sebab, berlangsung lebih dari enam minggu

- Merasakan buang air besar yang tidak tuntas

- Penurunan berat badan dengan cepat tanpa sebab dan badan terasa lemah.

Dr Harlinda Haroen mengatakan, penyebab kanker kolorektal ada yang bisa dikendalikan dan beberapa tidak bisa diubah karena melekat pada penderita. Menurutnya, faktor risiko kanker usus besar yang tidak bisa diubah antara lain faktor usia di atas 50 tahun, punya riwayat polip, penyakit usus besar, dan faktor keturunan.

"Namun, ada juga faktor risiko yang bisa dikendalikan, yakni menjaga gaya hidup sehat dan pola makan bergizi seimbang," sebut Haroen.

Dia menyebutkan, pencegahan dapat dilakukan melalui diet seimbang, terutama bagi penderita diabetes dan membatasi konsumsi daging merah termasuk daging olahan dan berhenti merokok serta berhenti mengkonsumsi minuman beralkohol.

 

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya