Liputan6.com, Jakarta Belum pernah aku pulang audisi dengan perasaan seoptimistis saat itu. Kesokan harinya aku menjalani hari dengan hati melayang. Sesi pemotretan, wawancara, membintangi iklan untuk baliho luar ruangan, konten medsos, dan jadi bintang tamu acara televisi aku lakukan dengan suasana hati gembira.
Bahkan setelah seminggu tak ada kabar dari Mas Budi pun, waswas masih bisa kukontrol. Hari kedelapan, barulah ponselku berdering dan nama Budi Prayitno muncul di layar. Baru sekali berdering, buru-buru kuangkat karena sejujurnya telepon dari Mas Budilah yang aku nantikan.
Advertisement
“Cak, ini langsung saja, ya. Gue minta lo siap-siap. Stamina harus prima karena lusa kita mulai syuting di Jagakarsa. Naskah bakal dikirim via email sama tim gue termasuk deskripsi karakter Baruno,” beri tahu Mas Budi dari ujung telepon.
Teken Kontrak Dengan Dania
“Yes! Yes! Yes!” teriakku dalam hati sambil mati-matian menenangkan diri.
“Tapi besok gue minta lo temui Mbak Dania dulu, asistennya pak produser Hadi Sasongko buat negosiasi honor. Kalau bisa dibikin cepet aja, soalnya kalau enggak cocok harga, sudah ada nama lain yang mengincar Baruno. Habis lo audisi, tuh ada aktor yang lolos juga buat back-up plan,” Mas Budi melanjutkan.
Tanpa ba-bi-bu, aku langsung bilang oke. Keesokan harinya, aku ke kantor Motion Pictures dan tanda tangan kontrak kerja dengan Dania. Baiklah, aku bakal jujur sama kalian. Honorku sebagai pemeran pendukung masih satu digit. Jelas tidak mungkin 10 juta rupiah per episode karena ini baru sinetron keduaku.
Mas Budi Yang Detail
Yang pertama, nahas hanya tayang 14 hari lalu dibungkus paksa. Penyebabnya? Apalagi kalau bukan share nyungsep di pekan kedua dan makin tak tertolong karena kalah oleh acara kompetisi dangdut. Usai tanda tangan kontrak, aku dikabari Mas Budi lewat WhatsApp bahwa naskah dan sinopsis sudah dikirim.
Seharian itu aku mengulik karakter Baruno. Lewat video call, Mas Budi menghubungiku. Ia memberi arahan soal watak, motivasi, gaya bicara, sampai latar belakang keluarga Baruno yang kompleks. Mas Budi dulu sutradara film layar lebar.