Sekber Golkar Mendesak Akbar Mundur

Paguyuban Sekber Golkar 64 meminta Akbar Tandjung mundur dari posisi Ketua Umum Partai Beringin. Akbar baru bisa bisa turun apabila 2/3 dari 30 DPD sudah meminta kepada DPP Golkar.

oleh Liputan6Diterbitkan 08 September 2002, 20:22 WIB
Liputan6.com, Bogor: Desakan Akbar Tandjung mundur dari Ketua Umum Partai Golongan Karya menguat. Di dalam pertemuan antarkader partai se-Jawa Bali, Ahad (8/9) di Bogor, Jawa Barat, terungkap sebagian anggota Partai Beringin ingin Akbar mundur dari jabatannya. "Vonis terhadap Akbar membuat Golkar sulit merangkul kalangan muda," kata Zainal Bintang, Ketua Paguyuban Sekber Golkar 64.

Menurut Zainal, Akbar harus mengundurkan diri secara legowo. Langkah ini penting agar suara kaum muda yang antipraktik korupsi, kolusi, dan nepotisme tetap terwakilkan. Jika pengurus partai terus berupaya menyelamatkan pribadi Akbar, bukan tak mungkin Partai Golkar akan ditinggalkan pemilihnya. Sekadar diketahui Sekber Golkar terdiri dari Sentral Organisasi Karyawan Sosialis Indonesia (SOKSI), Musyawarah Kekeluargaan Gotong Royong (MKGR), dan Kesatuan Organisasi Serbaguna Gotong Royong (Kosgoro).

Seorang pendiri Sekber Golkar Suhardiman menyatakan, Akbar tak perlu mundur dari Ketua Umum Golkar. Sebab, tak ada aturan yang mengharuskan Akbar turun. Mantan Ketua Umum SOKSI ini menyatakan, pernyataan Zainal Bintang bersifat pribadi, tidak mewakili Sekber Golkar. "Saya tetap mendukung Akbar, sesuai hasil Rapim kemarin," kata Suhardiman [baca: Akbar Bersikeras Tak Mau Mundur].

Ketua DPP Partai Golkar Agung Laksono mengungkapkan, saat ini memang ada empat dewan pimpinan daerah yang meminta DPP mengkaji kembali kepemimpinan Akbar. Namun, itu belum cukup untuk mendongkel Akbar. Sebab, secara teknis, Akbar baru bisa diganti apabila 2/3 dari 30 DPD sudah memintanya. Mengenai desakan Zainal Bintang, ia yakin Sekber Golkar tak akan membuat manuver untuk menjungkalkan Akbar.

Dosen Ilmu Politik Universitas Airlangga Kris Nugroho mengatakan posisi Akbar, baik sebagai ketua DPR maupun pemimpin partai memang sulit digoyang. Sebab, figur Akbar sangat berpengaruh dalam perpolitikan di Tanah Air. "Jika bukan Akbar, mungkin Partai Golkar sudah tidak ada," kata Kris dalam telewicara dengan reporter SCTV Rosianna Silalahi, Ahad petang. Sudah begitu, Kris menambahkan, konsolidasi Partai Beringin juga kuat.

Namun demikian, Kris melanjutkan, fungsionaris Partai Golkar harus tetap melihat bahwa posisi Akbar saat ini sangat riskan buat dipertahankan. "Bisa jadi, kasus yang menimpa Akbar malah dijadikan amunisi partai lain atau lawan politiknya buat menjatuhkan mantan Mensesneg itu," kata Kris [baca: Bila Akbar Bertahan, Wibawa DPR Dipertaruhkan].(ULF/Olivia Rosalia dan Zakaria)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya