Suhu Udara Sumatera Barat Turun di Tengah Kabut Asap, Mengapa?

Kabut asap yang masuk ke wilayah Sumbar beberapa waktu terakhir menghambat panas matahari sampai ke bumi sementara pada malam hari bumi terus melepas radiasi gelombang panjang sehingga mengalami defisit.

oleh Liputan6.com diperbarui 16 Sep 2019, 23:00 WIB
Ilustrasi cuaca dingin. Sumber foto: unsplash.com/Matthew Henry.

Liputan6.com, Bukittinggi - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Minangkabau, Sumatera Barat memperkirakan penurunan suhu di daerah itu berlangsung hingga dua sampai tiga hari ke depan.

"Diperkirakan sampai dua atau tiga hari ke depan, namun kita juga lihat bagaimana intensitas kabut asap karena itu ikut berpengaruh dalam penurunan suhu," Kepala Seksi Observasi dan Informasi BMKG Stasiun Meteorologi Minangkabau Yudha Nugraha dikonfirmasi dari Bukittinggi, Senin (16/9/2019), dilansir Antara.

Kabut asap yang masuk ke wilayah Sumbar beberapa waktu terakhir menghambat panas matahari sampai ke bumi sementara pada malam hari bumi terus melepas radiasi gelombang panjang sehingga mengalami defisit.

Pada saat kemarau kecenderungan kelembaban udara rendah atau kering sehingga tidak ada uap air yang cukup di udara untuk menahan panas tetap di permukaan bumi.

"Jika dilihat intensitas kabut asap tampak makin berkurang, jadi semoga perlahan suhu udara bisa lebih hangat dalam beberapa hari ke depan," katanya.

Suhu minimum tercatat di BMKG Stasiun Meteorologi Minangkabau pada Senin(16/9) pagi sebesar 18,6°C atau turun dari kondisi rata-rata 22,7°C dan penurunan dikategorikan ekstrem untuk kota Padang.

Fenomena suhu dingin menurutnya hal yang lumrah dan saat ini belum terlalu berdampak terhadap aktivitas manusia.

Hanya saja hal itu perlu diperhatikan untuk usaha pertanian apabila suhu udara turun secara berkelanjutan karena ada komoditas tertentu yang tidak cocok ditanam pada suhu lebih dingin.

"Jika terbentuk embun beku dapat menyebabkan kegagalan panen untuk komoditas yang tidak cocok dengan suhu dingin," ujarnya.

 

Simak video pilihan berikut ini:

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya