Sahur Ramadan Sebagai Pemersatu Antar Umat Beragama

Sudah 20 tahun Shinta Nuriyah Wahid menggelar sahur bersama, sebuah aksi nyata merawat kebhinekaan dan merajut persaudaraan antar umat.

oleh Felek Wahyu diperbarui 20 Mei 2019, 04:06 WIB
shinta Nuriyah Abdurachman Wahid sahur bersama di Gereja Katolik Gedangan Semarang. (foto: Liputan6.com /felek wahyu)

Liputan6.com, Semarang - Shinta Nuriyah Abdurachman Wahid Gus Dur, menikmati makan sahur bersama warga di Kota Semarang. Tidak ada yang berbeda, makan sahur dilakukan di Gereja. Kali ini, makan sahur masih menjadi kampanye damai dan digelar di gereja Santo Yusuf Gedangan. Inilah gerakan sahur bersama Sinta Nuriyah, sebuah momen yang sudah dilakukan selama 20 tahun.

Kedatangan Shinta Nuriyah Abdurachman Wahid, Sabtu (18/5/2019) disambut anggota Banser dan juga umat Katolik di gereja yang bercorak serba merah tersebut. Ribuan orang menghadiri.

Di hadapan ribuan orang yang hadir, Shinta Wahid mengingatkan bahwa momentum sahur bisa dimanfaatkan sebagai wujud saling menghormati serta saling menyayangi antar saudara sebangsa.

"Kita tidak boleh memfitnah, apalagi menyebarkan berita bohong. Tak usah menghasut kepada tindakan-tindakan negatif," kata Shinta.

Shinta mengaku tak pernah lelah menyemai kebaikan antar umat beragama. Dalam kegiatan sahur bersama Shinta Nuriyah, sebagai wujud nyata adalah dengan menyapa para kaum papa, umat lintas iman lainnya, untuk merayakan keberagaman saat Ramadan.

Sahur keliling pun menjadi kegiatan yang tak pernah dilewatkan olehnya saban tahun. Sudah dua puluh tahun lamanya ia menyambangi tempat-tempat yang terpinggirkan. Mulai tukang becak, pemulung, pedagang pasar, pastor hingga suster gereja rutin ia ajak menyantap hidangan berbuka puasa maupun sahur.

"Kegiatan sahur keliling ini telah saya lakukan selama 20 tahun semenjak Gus Dur menjadi Presiden RI keempat," katanya.

Romo Yohanes Rasul Edi Purwanto, Vikaris Jenderal Keuskupan Agung Semarang (KAS) menyambut gembira kedatangan Shinta Wahid yang sahur bersama di Gereja Gedangan.

"Dialah ikon persaudaraan sejati," katanya.

Gereja Gedangan, menurutnya sejak ratusan tahun punya andil besar bagi kemerdekaan Bangsa Indonesia. Mgr Albertus Soegijapranata sudah turut berjuang mengusir tentara penjajah dengan memanfaatkan gereja tersebut sebagai bunker sekaligus tempat tinggalnya.

Saat itu Soegijapranata sebagai Uskup pertama di Semarang ikut pindah ke Yogyakarta ketika ibu kota berpindah ke sana. Ada juga perintah mengibarkan bendara merah putih tepat setelah Presiden Sukarno memproklamirkan kemerdekaan Indonesia.

"Melalui acara ini, kita membangun Keindonesiaan," kata Romo Edi.

Sementara itu, Romo Eduardus Didik Chahyono, Ketua Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang (HAK-KAS) berharap bahwa acara sahur bareng di Gereja Gedangan menjadi penguat bahwa acara sahur bareng di Gereja Gedangan mampu jadi penguat sekaligus merajut kebersamaan antar warga pasca kontestasi Pemilu.

"Kembali bersama kita membangun negeri ini. Kami bersyukur acara sahur bersama Shinta  Nuriyah dan tausiah kebangsaan ini dapat berjalan dengan aman, lancar dan menggembirakan," tutur Didik.

 

Simak video pilihan berikut:

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya