Liputan6.com, Padang: Pemerhati masalah sosial Rasmi R. mengatakan, rumah gadang di Sumatra Barat merupakan simbol kearifan lokal dalam menghadapi bencana banjir, gempa, dan tsunami. "Rumah gadang atau rumah besar bukan hanya dalam pengertian fisik, tetapi lebih dari itu juga fungsi dan perannya yang berkaitan dengan adat dan kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana," kata Rasmi di Padang, Ahad (22/4).
Rumah tempat tinggal di Minangkabau dikenal dengan sebutan rumah gadang. Pola rumah gadang berbentuk kapal dengan atap yang memiliki bubungan lengkung ke atas lebih kurang setengah lingkaran.
Denah dasarnya berbentuk empat persegi panjang dan lantai berada di atas tiang-tiang. Tangga tempat masuk rumah berada di tengah-tengah. Ia menjelaskan, rumah gadang dibangun dengan ketinggian sekitar tiga meter dari permukaan tanah dengan tiang-tiang besarnya.
"Pemasangan tiang-tiang yang kuat dan lantainya yang berada di ketinggian tiga meter dari tanah berguna untuk menghindari bencana. Rumah gadang yang tidak berloteng juga berguna sebagai sarana evakuasi dengan cara menaiki tiang-tiang menuju atap jika terjadi bencana banjir atau tsunami," katanya.
Pada masa sekitar 300 tahun lampau, Rasmi menjelaskan, kawasan pesisir Sumbar pernah dilanda gempa dan tsunami. Saat itu rumah gadang sangat membantu sebagai sarana evakuasi warga.
Rumah gadang juga dilengkapi dengan tangga darurat yang dipasang di dekat jendela. "Kearifan lokal seperti ini tentu sangat perlu untuk terus dipertahankan guna meminimalisasi korban jiwa ketika bencana alam terjadi," katanya.(ANS/Ant)
Rumah tempat tinggal di Minangkabau dikenal dengan sebutan rumah gadang. Pola rumah gadang berbentuk kapal dengan atap yang memiliki bubungan lengkung ke atas lebih kurang setengah lingkaran.
Denah dasarnya berbentuk empat persegi panjang dan lantai berada di atas tiang-tiang. Tangga tempat masuk rumah berada di tengah-tengah. Ia menjelaskan, rumah gadang dibangun dengan ketinggian sekitar tiga meter dari permukaan tanah dengan tiang-tiang besarnya.
"Pemasangan tiang-tiang yang kuat dan lantainya yang berada di ketinggian tiga meter dari tanah berguna untuk menghindari bencana. Rumah gadang yang tidak berloteng juga berguna sebagai sarana evakuasi dengan cara menaiki tiang-tiang menuju atap jika terjadi bencana banjir atau tsunami," katanya.
Pada masa sekitar 300 tahun lampau, Rasmi menjelaskan, kawasan pesisir Sumbar pernah dilanda gempa dan tsunami. Saat itu rumah gadang sangat membantu sebagai sarana evakuasi warga.
Rumah gadang juga dilengkapi dengan tangga darurat yang dipasang di dekat jendela. "Kearifan lokal seperti ini tentu sangat perlu untuk terus dipertahankan guna meminimalisasi korban jiwa ketika bencana alam terjadi," katanya.(ANS/Ant)