Bayi Bermata Satu Asal Mandailing Natal Bertahan Hidup Kurang dari 8 Jam

Bayi bermata satu itu tak mampu bertahan karena kondisinya yang sudah lemah. Pada hari yang sama, dia meninggal dunia.

oleh Reza Efendi diperbarui 14 Sep 2018, 12:04 WIB
Bayi bermata satu di Mandailing Natal. (Liputan6.com/Reza Efendi)

Liputan6.com, Mandailing Natal - Bayi bermata satu yang lahir dengan kondisi memprihatinkan di Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Sumatera Utara, meninggal dunia. Bayi berjenis kelamin perempuan meninggal setelah mendapat perawatan kurang lebih 7 jam.

Informasi diperoleh Liputan6.com, bayi malang tersebut lahir pada Kamis, 13 September 2018, sekitar pukul 15.30 WIB di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Penyabungan, dan meninggal pukul 22.55 WIB.

"Benar, sudah meninggal tadi malam. Lahirnya sesar, namun kondisi kesehatannya memang tidak baik," kata Kepala Dinas Kesehatan Pemerintah Kabupaten Mandailing Natal Syarifuddin Nasution, Jumat (14/9/2018).

Dia menjelaskan, pihak rumah sakit sudah semaksimal mungkin dalam penanganan terhadap bayi. Saat dirawat, setiap 15 menit sekali perawat selalu melakukan pengecekan untuk melihat kondisinya. Namun sayang, bayi tersebut meninggal dunia.

Selama dalam perawatan, bayi bermata satu itu dipasangi alat bantu pernafasan dari mulut. Karena saat dilahirkan, bayi tidak memiliki hidung, dan denyut jantungnya sangat lemah, di bawah 100 beats per minute (bpm) yang merupakan angka normal.

"Dokter juga tampaknya sudah memperkirakannya. Karena dalam beberapa kasus, bayi bermata satu hanya bisa bertahan beberapa jam," jelasnya.

Syarifuddin menyebut, orangtua bayi bermata satu ini merupakan perantauan dari Pulau Jawa. Mereka tinggal di kawasan Kelurahan Kayu Jati, Kecamatan Panyabungan Kota, Kabupaten Madina. Orangtua bayi diketahui bekerja di sebuah tambang yang diduga ilegal.

"Dugaan kuat karena pengaruh obat-obatan dan virus. Sampai saat ini ibu bayi belum bisa dimintai keterangan, masih syok," Syarifuddin menandaskan.

 

Simak video pilihan berikut ini:

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya