Istimewanya Pentas Princess Pantura di Hati Sang Sutradara Agus Noor

Dari 27 pementasan Indonesia Kita, lakon Princess Pantura terasa istimewa bagi Sang Direktur Kreatifnya, Agus Noor.

oleh Gabriel Abdi Susanto diperbarui 21 Apr 2018, 12:28 WIB
Trio GAM, Arie Kriting, Akbar dan Cak Lontong dalam lakon Princess Pantura, Program Indonesia Kita ke-28, Graha Bakti Budaya, TIM, Jakarta (20-21/4/2018). (Kayan Production/ Anggoro Tri Wicaksono)

 

Liputan6.com, Jakarta Dari 27 pementasan Indonesia Kita, lakon Princess Pantura terasa istimewa bagi Sang Direktur Kreatifnya, Agus Noor. Sejak kecil dia hidup dalam lingkungan dangdut. "Saya lahir dan tumbuh di sebuah desa di Tegal yang terbiasa dengan lagu-lagu dangdut. Bahkan ayah saya yang haji semasa mudanya punya grup Orkes Melayu "Al Fajar" dan suka tampil sebagai pembawa acara pada pentas-pentasnya,"ujar Agus.

Sejak kecil, Agus mengaku terbiasa dipangku para biduan yang menunggu giliran menyanyi. Di antara kegiatan sekolah pagi hari dan siang belajar serta mengaji di madrasah, malam harinya Agus keluyuran ke desa-desa sebelah ketika ada pertunjukan dangdut.

"Kebiasaan ini terus saya nikmati ketika saya sekolah di Yogyakarta. Menonton panggung dangdut di Pasar Malam Sekaten sebelum akhirnya dangdut tidak boleh lagi hadir di pasar malam itu. Dan hampir tiap malam minggu berjoget menikmati lagu-lagu dangdut di panggung rakyat Purawisata,"cerita Agus.

Agus melanjutkan cerita. Pernah ketika mendirikan Event Organizer, di awal karyanya dia menggelar pentas-pentas dangdut. Bahkan pernah memanggungkan Evie Tamala juga Cici Paramida. "Jadi , saya lebih dulu mengenal pentas dangdut dibandingkan pentas teater. Sering saya merenung, orang-orang yang menyukai dangdut bisa jadi orang-orang yang hidupnya beruntung,"ujar Agus.

Princess Pantura merupakan lakon dari program Indonesia Kita produksi ke-28 yang diselenggarakan oleh Bakti Budaya Djarum Foundation. Tampil tiga kali pada Jumat, 20 April pkl. 20.00 WIB, dan Sabtu, 21 April pkl 14.00 dan 20.00 WIB, gelaran ini merupakan pementasa yang kedua dengan tema Budaya Pop: Dari Lampau ke Zaman Now. Dirumuskan oleh tim kreatif yang terdiri dari Butet Kartaredjasa, Agus Noor serta Djaduk Ferianto dilengkapi dengan tampilan artistik panggung Ong Hari Wahyu.

Kisah persaingan dua biduan dangdut menjadi alur utama gelaran ini. Lewat kisah ini penonton diajak berefleksi tentang gambaran sosial terkini bagaimana popularitas sering kali menjadi tujuan yang membuat orang gelap mata. Hal yang sama ketika para hamba kekuasaan bernafsu menggapai kursinya. Politik akhirnya merusak indahnya dangdut yang harusnya menghibur.

 

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya