Tekanan Cukup Besar, IHSG Mampu Menguat ke 6.000,47

IHSG sempat berada di level tertinggi 6.026,41 dan terendah 5.979,48.

oleh Arthur Gideon diperbarui 05 Des 2017, 16:15 WIB
Pekerja melintas di bawah layar indeks saham gabungan di BEI, Jakarta, Selasa (4/4). Sebelumnya, Indeks harga saham gabungan (IHSG) menembus level 5.600 pada penutupan perdagangan pertama bulan ini, Senin (3/4/2017). (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mampu bertahan di zona hijau meskipun sempat tertekan pada penutupan perdagangan Selasa ini. IHSG mampu kembali ke level 6.000.

Pada penutupan perdagangan Selasa (5/12/2017), IHSG naik tipis 2,27 poin atau 0,04 persen ke posisi 6.000,47. Indeks saham LQ45 juga naik 0,42 persen ke posisi 1.012,89. Sebagian besar indeks saham acuan menghijau.

Ada sebanyak 98 saham menguat sehingga mendorong IHSG ke zona hijau. Namun, 252 saham melemah sehingga sempat membuat IHSG berada di zona merah. Sedangkan 110 saham lainnya diam di tempat.

IHSG sempat berada di level tertinggi 6.026,41 dan terendah 5.979,48.

Total frekuensi perdagangan saham sekitar 477.777 kali dengan volume perdagangan 9,5 miliar saham. Nilai transaksi harian Rp 7,4 triliun.

Investor asing melakukan aksi jual Rp 275 miliar di semua pasar. Posisi dolar Amerika Serikat berada di kisaran Rp 13.513.

Secara sektoral, sebagian besar sektor saham memerah. Sektor saham konstruksi turun 1,63 persen, dan catatkan pelemahan terbesar. Disusul sektor saham perkebunan melemah 1,63 persen dan sektor saham industri dasar tertekan 1,41 persen.

Saham-saham yang catatkan top gainers antara lain saham BMSR naik 34,40 persen ke posisi Rp 168, saham SONA melonjak 16,25 persen ke posisi Rp 2.790 per saham, dan saham HOTL mendaki 12 persen ke posisi Rp 112.

Sedangkan saham-saham yang tertekan antara lain saham GOLD turun 24,70 persen ke posisi Rp 372 per saham, saham JIHD merosot 23 persen ke posisi Rp 462, dan saham FINN tergelincir 17,14 persen ke posisi Rp 145 per saham.

Sebelumnya, analis PT Asjaya Indosurya Securities, William Suryawijaya menuturkan, IHSG terlihat masih terus berusaha melanjutkan kenaikan.

Rilis data ekonomi inflasi November 2017 sekitar 0,20 persen masih berdampak untuk pergerakan IHSG. Selain itu, menurut William, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat juga masih terlihat belum akan alami tekanan berarti.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya