5 Pembelian Klub Berujung Petaka

Chelsea maupun City kini menjadi klub menakutkan di Inggris maupun Eropa

oleh Liputan6.comDiterbitkan 23 November 2017, 07:30 WIB
Pemain Manchester City, Sergio Aguero (tengah) mencetak gol pembuka bagi timnya lewat titik putih saat melawan Burnley pada laga Premier League di Etihad Stadium, Manchester, (21/10/2017). Manchester City menang 3-0. (AFP/Oli Scarff)

Liputan6.com, Jakarta Tak bisa dimungkiri, kedatangan investor baru yang menyuntikkan dana segar ke sebuah klub membuat harapan baru. Namun, nyatanya cara ini tak 100 persen berhasil.

Selama bertahun-tahun, dunia sepak bola telah menyaksikan betapa banyak miliarder dunia yang mengalihkan bisnisnya ke sepak bola. Dari mulai Roman Abramovich, sampai Sheikh Mansour menjadi contohnya.

Namun demikian, dua klub di atas boleh dibilang sukses berkat akuisisi itu. Baik Chelsea maupun City kini menjadi tim menakutkan di Inggris maupun Eropa.

Akan tetapi, bagaimana jadinya kalau pembelian klub yang justru berakhir bencana? Lima klub di bawah ini bisa menjadi contoh.

Setelah dibeli, klub tersebut justru hancur. Berikut daftarnya dikutip Sportskeeda:


Bulat Chagaev (Neuchatel Xamax)

FC Basel (AFP/Paul Ellis)

Pebisnis Rusia, Bulat Chagaev menyelesaikan pengambilalihan klub Swiss, Neuchatel Xamax pada bulan Mei 2011. Ada banyak harapan soal kedatangan Chagaev ke sana.

Selama di sana, Chagaev memecat empat pelatih dalam empat bulan pertamanya yang bertanggung jawab atas klub tersebut. Selanjutnya, dia juga mengirim seluruh staf administrasi untuk berkemas bersamaan dengan pemberhentian setiap sponsor lokal klub tersebut.

Alhasil, klub menderita secara finansial. Setelah memecat seluruh tim pembinaannya usai timnya takluk 0-2 dari Basel FC pada Juni 2011, Chagaev masuk ke ruang ganti untuk mengancam pemainnya setelah bermain imbang 2-2 dengan klub papan bawah Lausanne Sport.

Pada kesempatan lain, dia juga mengakhiri kontrak kipernya setelah kalah 0-3. Kondisi tidak membaik pada September, Chagaev memutuskan hubungan dengan dua kelompok pendukung terbesar yang memberikan pendapatan penting bagi klub tersebut.

Dengan Neuchatel Xamax bangkrut pada Januari 2012, Chagaev dinyatakan bersalah melakukan penggelapan dan penghindaran pajak. Saat ini, dia menjalani hukuman di penjara karena aksinya itu.

Dalam lima tahun sejak masa Chagaev cabut, Xamax telah menunjukkan perbaikan. Saat ini, mereka bermain di tingkat pertama sepak bola Swiss.


Massimo Cellino (Leeds United)

Massimo Cellino

Ketika GFH Capital melepas saham ke Massimo Cellino pada tahun 2014, penggemar Leeds United berharap untuk mendapatkan era yang lebih cerah. Akan tetapi, pengusaha Italia itu tidak lebih dari mengulangi sejarahnya di klub.

Lanjut Baca:

Cellino telah bertanggung jawab atas Cagliari selama 22 tahun. Dalam masa jabatan itu, dia mencatatkan 36 pelatih. Dia juga didakwa dengan masalah penggelapan dana pembangunan stadion Cagliari. Jelas, Cellino bukanlah pilihan terbaik untuk mengembalikan Leeds ke kejayaan sebelumnya. Namun, GFH Capital sepakat untuk menjual 75% sahamnya ke perusahaan Cellino, Eleonora Sports Ltd pada tahun 2014. Dia menjanjikan promosi ke Liga Inggris, tapi gagal dalam memenuhinya. Liga melarang dia dari jabatan ketua karena kasus penghindaran pajak yang harus dihadapi di Italia. Pada tahun 2015, Cellino dibersihkan dari segala tuduhan untuk kembali ke posisinya di klub. Bersama Leeds, Cellino memecat enam manajer dalam kurun waktu dua tahun. Namun, dia akhirnya menjual klub tersebut saat berada dalam utang yang besar kepada Andrea Radrizzani pada Mei 2017.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya