Jalanan Berbatu Menuju Ujung Kulon Perlukah Diaspal?

Sekitar 20 kilometer jalan di perkampungan terakhir dekat Taman Nasional Ujung Kulon, berbatu dan berlumpur di kala hujan.

oleh Yandhi Deslatama diperbarui 26 Sep 2017, 19:30 WIB
Sekitar 20 kilometer jalan di perkampungan terakhir dekat Taman Nasional Ujung Kulon berbatu dan berlumpur di kala hujan. (Liputan6.com/Yandhi Deslatama)

Liputan6.com, Pandeglang - Ujung aspal di Desa Kertamukti, Kecamatan Sumur, Kabupaten Pandeglang, Banten, adalah akses jalan nol kilometer di ujung barat Pulau Jawa. Jalan itu merupakan akses satu-satunya menuju Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) yang telah dibeton. Sisanya, sekitar 20 kilometer, merupakan jalanan tanah berbatu yang berlumpur kala musim hujan.

"Saya juga langsung berkirim surat ke menteri untuk membangun jalan. Di mana kalau jalanan bagus, mobilisasi masyarakat meningkat, maka perkonomian warga juga akan meningkat," kata Mamat Rahmat, Kepala Balai TNUK, saat ditemui di Pos Peucang, kawasan TNUK, Kabupaten Pandeglang, Banten, Minggu, 24 September 2017.

Hanya jalan setapak yang dipenuhi semak belukar dan pepohonan hutan tropis di Desa Ujung Jaya, perkampungan yang berbatasan langsung dengan pagar lahan konservasi badak bercula satu.

Meski begitu, setidaknya 15 ribu turis tetap mendatangi habitat alami badak bercula satu pada 2016 lalu untuk menikmati suasana pantai, keindahan alam, sekaligus melihat hewan liar hidup di habitat alam liar.

"Pengaruh arus mobilisasi masyarakat tidak akan berpengaruh dengan ekosistem TNUK. Tapi, kita sudah berkoordinasi dengan pemerintah pusat untuk membangun jalan ke Ujung Kulon. Soal perusakan hutan, penebangan liar, itu sudah ada polisi hutan yang menjaga," katanya.

Selain menjadi habitat alami badak bercula satu, perairan Ujung Kulon yang menjadi perbatasan antara Selat Sunda dan Samudra Hindia juga menjadi lokasi hidupnya penyu hijau, belimbing dan penyu sisik.

"Kami mulai penangkaran semi alami di sini. Konservasi penyu dilakukan di Ujung Kulon, juga," katanya.

Pada Sabtu, 23 September 2017, sebanyak 17 ekor penyu sisik dilepasliarkan ke perairan Ujung Kulon agar bisa berkembang biak di habitat alami. Hal itu untuk menjaga keberlangsung penyu hijau yang telurnya rentan diganggu berbagai macam ancaman.

"Penyu tidak mengenal waktu untuk bertelur. Jika struktur pantainya sesuai, maka dia akan bertelur," ujar Mamat.

Saksikan video pilihan berikut ini:

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya