Reformasi Perpajakan AS Bantu Penguatan Bursa Asia

Indeks Nikkei Jepang naik 0,45 persen di awal perdagangan karena penguatan dolar AS terhadap yen Jepang.

oleh Arthur Gideon diperbarui 13 Sep 2017, 08:45 WIB
Seorang pria berdiri didepan indikator saham elektronik sebuah perusahaan sekuritas di Tokyo (29/8). Ketegangan politik yang terjadi karena Korut meluncurkan rudalnya mempengaruhi pasar saham Asia. (AP Photo/Shizuo Kambayashi)

Liputan6.com, Jakarta - Bursa Asia menguat pada pembukaan perdagangan Rabu pekan ini. Penguatan ini mengikuti kenaikan yang dibukukan oleh Wall Street usai adanya komentar mengenai reformasi perpajakan yang memudarkan kekhawatiran investor.

Mengutip CNBC, Rabu (13/9/2017), Indeks Nikkei Jepang naik 0,45 persen di awal perdagangan karena penguatan dolar AS terhadap yen Jepang. Sektor otomotif, perbankan dan teknologi mendorong kenaikan indeks acuan di Jepang tersebut.

Indeks Kospi Korea Selatan turun tipis 0,07 persen. Sedangkan indeks S&P/ASX 200 Australia naik 0,47 persen yang dipimpin oleh saham-saham di sektor perbankan. National Australia Bank membukukan kenaikan terbesar yaitu mencapai 1,07 persen dan disusul oleh ANZ di angka 0,9 persen.

Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin pada Selasa kemarin menjelaskan bahwa reformasi pajak AS akan bisa diselesaikan sebelum akhir tahun ini. Hal tersebut memberikan angin segar kepada investor sehingga mulai memburu lagi ekuitas. 

Berbagai sentimen negatif dari ketegangan geopolitik di Semenanjung Korea telah memudar sehingga membantu penguatan bursa Asia. Pada Senin kemarin Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa memberikan sanksi keras kepada Korea Utara termasuk pembatasan impor minyak.

Bursa Amerika Serikat (AS) juga membukukan kenaikan pada penutupan perdagangan Selasa. Indeks S&P 500 kembali mencetak rekor penutupan tertinggi. Pendorong penguatan S&P 500 adalah saham-saham di sektor finansial. Sayangnya, kenaikan tersebut terhambat penurunan saham Apple usai meluncurkan produk baru.

Indeks Nasdaq Composite juga mencetak rekor tertinggi meskipun saham Apple juga menekan indeks acuan di Amerika Serikat (AS) ini. Investor mulai nyaman untuk kembali mengoleksi aset-aset berisiko usai ketegangan AS dengan Korea Utara berangsur mereda dan dampak dari Badai Irma tak separah yang diperkirakan.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Tag Terkait

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya