Satu Keluarga di Bekasi Mengalami Depresi Akibat First Travel

Putra Maryanah, Suhendi mengatakan, hampir semua anggota keluarganya yang tertipu First Travel, mulai menunjukkan gelagat yang kurang wajar.

oleh Liputan6.com diperbarui 20 Agu 2017, 13:40 WIB
Calon jemaah umrah First Travel menunjukkan kwitansi saat mendatangi gedung DPR bertemu dan mengadu ke Komisi VIII DPR Fraksi PPP, di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (18/8). (Liputan6.com/Johan Tallo)

Liputan6.com, Bekasi - Sedikitnya enam warga Kota Bekasi, Jawa Barat, menjadi korban penipuan biro perjalanan umrah First Travel. Sebagian dari mereka saat ini mengalami depresi hingga jatuh sakit.

"Keluarga saya yang tertipu ada enam orang. Mereka sekarang mengalami stres, karena uang yang sudah disetorkan tidak ada kejelasan," kata korban, Maryanah di Bekasi, Minggu (20/8/2017).

Warga RT 03 RW 19 Kelurahan Jatimakmur, Kecamatan Pondokgede itu mengaku baru menyadari telah menjadi korban penipuan, saat kabar tersebut ramai di media massa.

Perempuan 51 tahun itu mengaku kerap mengalami depresi bila mendengar ada pemberitaan soal First Travel di televisi, yang belakangan ini tersiar hampir setiap hari.

"Saya beruntung punya anak yang baik. Setiap kali saya stres, ada putra saya yang selalu memberi nasihat untuk bersabar," kata dia seperti dilansir Antara.

Putra Maryanah, Suhendi mengatakan, hampir semua anggota keluarganya yang tertipu First Travel, mulai menunjukkan gelagat yang kurang wajar.

"Ada keluarga saya bernama Bu Anah yang stres dan sempat guling-gulingan sambil menangis histeris di jalan, saat tahu dirinya menjadi korban penipuan First Travel," kata pria 33 tahun itu.

Sang ibu, kata Suhendi, menampakkan gejala depresi dengan menurunnya napsu makan, serta melamun dalam kondisi tertentu.

"Mereka depresi karena uangnya boleh ngumpulin sedikit-sedikit. Rata-rata mereka warga berpenghasilan menengah ke bawah dan sekarang sudah menyetor ke First Travel rata-rata Rp 18 juta," kata dia.

Menurut Suhendi, keenam anggota keluarganya telah melakukan ratiban (zikir) sebagai syukuran atas rencana keberangkatan untuk umroh ke Tanah Suci sejak awal Januari 2017. Namun sampai Agustus 2017 belum ada kejelasan pemberangkatan.

"Awalnya First Travel mengundur keberangkatan karena terjadi pengurangan kuota dari Saudi Arabia. Kemudian keluarga saya yang ingin berangkat sesuai jadwal dimintai uang lagi Rp 2 juta dengan alasan untuk sewa pesawat. Sampai waktu yang dijanjikan, belum ada jadwal pemberangkatan umrah yang jelas," ungkap dia.

Uang Arisan

Korban lain warga RT 04 RW 09, Kelurahan Jatimakmur, Kecamatan Pondokgede, Kota Bekasi, Kunut. Dia mengaku mulai mengalami gangguan kesehatan, yakni penurunan stamina.

"Pikiran saya puyeng kalau ingat umroh. Badan saya sepertinya butuh dirawat karena kurang enak terus," kata pria 75 tahun itu.

Kunut telah menyetorkan dana Rp 32 juta kepada First Travel, untuk keberangkatan umroh bersama sang istri ke Tanah Suci.

"Uangnya juga dikumpulin dari arisan. Bulanannya sampai sekarang harus saya bayar," kata dia.

Kunut bersama keluarganya hanya berharap uang setoran umrah yang diberikan kepada First Travel, bisa dikembalikan dengan utuh.

"Kami cuma ingin uangnya dikembalikan saja utuh untuk keperluan lain," kata dia.

Polisi telah menetapkan pemilik First Travel sebagai tersangka kasus dugaan penipuan ribuan jemaah umrh. Polisi menduga sebagian dana jemaah digunakan untuk membeli aset pribadi seperti rumah dan mobil mewah. Akibatnya, ribuan jemaah gagal berangkat ke Tanah Suci.

Sakiskan video menarik berikut ini:

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya