Indonesia Gelar Festival Film Dokumenter Se-Asia Tenggara

Docs by the Sea jadi tonggak sejarah film dokumenter di Asia Tenggara.

oleh Fajarina Nurin diperbarui 16 Agu 2017, 05:00 WIB
Docs by the Sea jadi tonggak sejarah film dokumenter di Asia Tenggara.

Liputan6.com, Jakarta - Film dokumenter dari Asia Tenggara kurang terdengar di dunia internasional dibandingkan dengan sejumlah negara Asia lainnya. Hal tersebut terjadi karena sineas film dokumenter Asia Tenggara, khususnya Indonesia, kurang memiliki jaringan serta dukungan dari para pemangku kepentingan.

Atas dasar hal itu, Badan Ekonomi Kreatif bekerja sama dengan In-Docs, sebuah organisasi nirlaba yang fokus pada film dokumenter Indonesia, menyelenggarakan Docs by the Sea, sebuah platform bagi sineas film dokumenter se-Asia Tenggara.

 

Foto dok. Liputan6.com

Docs by the Sea bertujuan menghubungkan film-film dokumenter Indonesia dengan industri internasional yang infrastrukturnya jauh lebih terbangun. Menjadi tonggak sejarah baru film dokumenter Asia Tenggara, Docs by the Sea akan diselenggarakan pertama kali di Bali, Indonesia, 29-30 Agustus 2017 mendatang.

Menurut Amelia Hapsari, Direktur Program In-Docs, forum internasional semacam ini sangat penting bagi sineas film dokumenter. Pasalnya, ini adalah kali pertama sineas film dokumenter Asia Tenggara akan disorot secara penuh dalam forum internasional yang melibatkan sejumlah pemangku kepentingan.

"Beberapa film dokumenter Indonesia bisa masuk ke festival film internasional. Tapi ketika enggak ada dana, para film maker sangat berjuang untuk menjadikan filmnya unggul seperti film yang lain. Docs by the Sea adalah terobosan yang sangat baik," ujar Amelia Hapsari saat jumpa pers Docs by the Sea di @america, Pasific Place, Jakarta Selatan, Senin (14/8/2017).

Docs by the Sea akan dihadiri oleh 39 orang yang berasal dari berbagai kalangan, yaitu lembaga pendanaan, jaringan televisi internasional, pitching forum internasional, web platform, distributor, Film Festival Internasional, produser independen, dan filantropi, yang seluruhnya berasal dari 19 negara.

 

Foto dok. Liputan6.com

Nantinya, 10 proyek film dokumenter Indonesia, 15 proyek dari Asia Tenggara: Singapura, Malaysia, Filipina, Thailand, Vietnam, Kamboja, dan Myanmar, serta 5 proyek dari India, Korea Selatan, Taiwan, Belanda, dan Iran akan mempresentasikan ide mereka di hadapan para pemangku kepentingan yang telah disebutkan di atas.

Pitching forum tersebut akan membuka potensi bagi para sineas dan hadirin untuk bekolaborasi, baik itu memberi pendanaan, membuka pintu distribusi, mentorship, atau hal-hal lain yang akan mendukung proses produksi dan distribusi film tersebut.

 

Saksikan video menarik berikut ini. 

Tag Terkait

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya