Novel Baswedan Kecewa Proses Penyidikan Polri Terkait Kasusnya

Novel Baswedan menyayangkan, tidak ditemukannya sidik jari pada cangkir yang digunakan untuk menyiram dia dengan air keras.

oleh Edmiraldo Siregar diperbarui 14 Agu 2017, 21:41 WIB
Laporan Muhtar dan Nico selang beberapa hari dari beredarnya pernyataan Novel yang menyampaikan kesehatannya dan sikapnya melawan korupsi.

Liputan6.com, Jakarta - Penyidik Polri memeriksa penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan di Singapura, Senin (14/8/2017). Pemeriksaan yang dimulai pukul 10.00 waktu setempat itu bertujuan menggali informasi seputar penyerangan yang dialami Novel, sekitar empat bulan lalu.

Dalam pemeriksaan perdana ini, Novel didampingi Ketua KPK Agus Rahardjo dan Wakil Ketua KPK Saut Situmorang.

Namun, pemeriksaan yang baru rampung pukul 17.00 itu, tidak membuat Novel puas. Dia justru mengungkapkan kekecewaannya terhadap proses penyidikan Polri. Salah satu sebabnya karena identitas saksi-saksi kunci penyerangan dengan air keras itu dipublikasi oleh polisi.

"Seharusnya polisi melindungi dan menjaga para saksi kunci, supaya memberi keterangan dengan baik dan secara aman," katanya dalam siaran pers yang diterima Liputan6.com dari Tim Advokasi Novel Baswedan, Senin (14/8/2017).

Kekecewaan Novel Baswedan juga diperparah karena penyidik terkesan terburu-buru dalam menyimpulkan identitas orang yang berada di sekitar rumah Novel sebelum penyerangan. Itu membuat, penyidik terkesan menutup-nutupi peran pihak tertentu.

"Hal ini terkait orang yang memata-matai saya di depan rumah, yang polisi sebut sebagai mata elang. Padahal banyak orang menceritakan tidak demikian dan di antara orang tersebut ada yang berupaya masuk ke rumah saya dengan berpura-pura ingin membeli gamis laki-laki,” kata Novel.

Novel juga menyayangkan, tidak ditemukannya sidik jari pada cangkir yang digunakan untuk menyiram dia dengan air keras. Padahal, sidik jari itu menjadi bukti penting.

Dia pun merasa, penyidik Polri sempat menjaga jarak dengan keluarga Novel. Buktinya, dengan tidak memberikan SP2HP (Surat Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penyelidikan) ke keluarga Novel.

Novel menceritakan, anggota Densus 88 yang menginvestigasi penyerangan dengan air keras itu telah menemukan indikasi pelaku. Sebuah foto yang diduga sebagai pelaku penyerangan pun dikirimkan ke Novel.

"Setelah menerima, saya kirimkan foto tersebut ke adik saya untuk diperlihatkan kepada orang di sekitar kejadian, apakah mereka mengenali foto tersebut. Hasilnya banyak orang yang mengenali foto tersebut dan meyakini orang tersebut sebagai pelaku (pengintai atau eksekutor)," jelasnya.

Novel Baswedan mengaku, foto tersebut telah dia berikan kepada Kapolda Metro Jaya Irjen Pol M Iriawan dan Dirkrimum Polda Metro Jaya Kombes Pol Rudy Herianto, 19 April 2017lalu.

Saksikan Video Menarik di Bawah Ini:

 

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya