Atas Nama 'Kemanusiaan', Korea Utara Bebaskan Pendeta Kanada

Pembebasan Pendeta Lim terjadi di tengah meningkatnya ketegangan di Semenanjung Korea, di antara Donald Trump dan Korut.

oleh Arie Mega Prastiwi diperbarui 09 Agu 2017, 20:01 WIB
Hyeon Soo-lim, dibebaskan oleh Korea Utara (Screencap/CNN)

Liputan6.com, Pyongyang - Pendeta Kanada yang ditahan Korea Utara akhirnya dibebaskan setelah disekap selama 2,5 tahun.

Hyeon Soo-lim adalah tahanan Barat paling lama di Korut dalam satu dekade terakhir ini. Ia dibebaskan atas nama kemanusiaan, demikian pernyataan kantor berita Korut KCNA seperti dikutip CNN pada Rabu (9/8/2017).

Putra Sang Pendeta, James Lim, menerima kabar pada akhir pekan bahwa sebuah pesawat yang membawa pejabat senior Kanada, seorang dokter medis, dan sepucuk surat kepada Pemimpin Tertinggi Korea Utara Kim Jong-un dikirim ke Pyongyang, "pada saat-saat terakhir," menurut juru bicara keluarga, Lisa Pak.

Pesawat tersebut mendarat di ibukota Korea Utara, Senin lalu.

Lim menjalani hukuman seumur hidup setelah dianggap terbukti melakukan kejahatan terhadap Korut pada bulan Desember 2015.

Kesehatan pendeta berusia 62 tahun itu memburuk saat berada di tahanan Korea Utara dan ia mengalami penurunan berat badan secara dramatis, demikian menurut Lisa Pak.

Pembebasan Lim terjadi di tengah meningkatnya ketegangan di Semenanjung Korea setelah Presiden AS Donald Trump dianggap mengancam Korea Utara. Di sisi lain, Pyongyang berencana mengirim rudal ke wilayah AS di Pasidik, Guam.

Keluarga Lim meminta Korut untuk membebaskannya sejak kematian mahasiswa universitas Amerika Serikat Otto Warmbier pada bulan Juni.

Lim ditahan pada bulan Februari 2015 saat menjalankan misi kemanusiaan di Rajin, Korea Utara. Dia berada di sana atas nama Gereja Presbyterian Light Korea, di mana ia bergabung sejak tahun 1986.

Menurut keluarganya, Lim telah melakukan lebih dari 100 kunjungan ke Korea Utara sejak 1997, dan upaya kemanusiaannya mencakup pendirian gereja, panti asuhan, dan panti jompo di kota Rajin.

Dalam sebuah wawancara pada bulan Januari 2016 dengan CNN di Pyongyang -- percakapan pertamanya dengan media asing -- pria  Kanada itu mengatakan bahwa dia adalah satu-satunya tahanan di sebuah kamp kerja paksa, menggali lubang selama delapan jam sehari, enam hari seminggu. Saat itu, dia mengaku mendapat perawatan medis reguler dan tiga kali makan per hari.

Sementara itu, sedikitnya ada tiga warga AS masih berada di tahanan Korea Utara.

Pebisnis Kim Dong-chul ditahan pada bulan Oktober 2015 dan menjalani hukuman 10 tahun karena dituduh spionase.

Orang AS lainnnya, Kim Sang-duk, seorang akademisi yang juga dikenal sebagai Tony Kim, ditahan pada bulan April dan dituduh melakukan "tindakan kriminal permusuhan,"

Peneliti Kim Hak-song ditahan pada bulan Mei dan juga dituduh melakukan "tindakan permusuhan".

 

Saksikan video menarik berikut ini:

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya