Harimau Sumatera Nyaris Susul Nasib Harimau Jawa dan Harimau Bali

Harimau Jawa sudah punah sekitar 1980-an, sementara harimau Bali bahkan punah lebih dulu pada 1930-an. Bagaimana dengan harimau Sumatera?

oleh Reza Efendi diperbarui 31 Jul 2017, 13:30 WIB
Harimau Jawa sudah punah sekitar 1980an, sementara harimau Bali bahkan punah lebih dulu pada 1930an. Bagaimana dengan harimau Sumatera? (Liputan6.com/Reza Efendi)

Liputan6.com, Medan - Harimau adalah simbol kelestarian ekosistem. Keberadaan harimau sumatera hanya dimungkinkan jika hutan dan lingkungan sebagai habitatnya terjaga. Apalagi, harimau memiliki daya jelajah yang sangat luas hingga 300 km2.

Namun, fakta di lapangan tak menunjukkan kebanggaan. Menurut Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Wiratno, jumlah harimau sumatera dewasa di alam Sumatra yang tersisa hanya 600 ekor.  

Padahal, keberadaan harimau mampu menyeimbangkan jumlah populasi herbivora dan omnivora yang menjadi mangsanya. Langkah pemerintah dengan memiliki Indonesia Biodiversity Strategy and Action Plan (IBSAP) belum mampu menyelamatkan harimau sumatera dari ancaman kepunahan.

Jika dibiarkan, harimau sumatera bakal menyusul nasib dua sub spesies harimau endemik Indonesia, yakni harimau Bali dan harimau Jawa, yang dinyatakan punah pada 1930-an dan 1980-an. Hal itu menjadikan harimau sumatera merupakan satu-satunya sub spesies harimau endemik Indonesia yang masih tersisa.

"Peningkatan populasi harimau menjadi bagian dari Rencana Strategis Ditjen KSDAE yang harus dicapai di akhir 2019. Peningkatan populasi ini juga merupakan komitmen pemerintah yang disampaikan dalam deklarasi St. Pettersburg 2010, bersama dengan negara-negara yang memiliki harimau," ucap Wiratno, Senin (31/7/2017).

Saat ini, pemerintah mengalokasikan lebih dari 27 juta hektare sebagai areal utama perlindungan keanekaragaman hayati. Luasan tersebut tidak termasuk kawasan-kawasan lindung yang ditunjuk oleh pemerintah daerah, wilayah lindung di areal produksi maupun wilayah-wilayah perlindungan lainnya.

Namun, strategi penyediaan kawasan konservasi saja tak cukup menyelamatkan nasib harimau sumatera. Wiratno menyebut dua masalah lain yang mempercepat kepunahan si raja rimba, yakni perburuan dan perdagangan ilegal, serta konflik antara manusia-harimau sebagai akibat berkurangnya habitat dan jumlah satwa mangsa (diburu).

Pada tahun ini, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) berkolaborasi dengan berbagai lembaga untuk perayaan Global Tiger Day (GTD), di antaranya Forum HarimauKita, Disney Conservation Fund, Flora Fauna International-Indonesia Program (FFI-IP), dan Wildlife Conservation Society-Indonesia Program (WCS-IP).

Kegiatan dan rangkaian peringatan GTD 2017 dilaksanakan di sepuluh (10) kota yakni Banda Aceh, Medan, Padang, Bengkulu, Pekanbaru, Palembang, Jambi, Bandar Lampung, Purwokerto, dan Jakarta. Pada perayaan GTD ini kami mengusung tema Time for Tigers (#Time4Tigers), dengan pengertian saatnya berkomitmen untuk pelestarian harimau sumatera.

"Komitmen diharapkan muncul dari berbagai pihak dan elemen untuk memerangi perburuan dan perdagangan serta bersama-sama untuk menciptakan keharmonisan hidup berdampingan dengan harimau sumatera," tuturnya.

Direktur Jenderal KSDAE juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk ikut serta dalam rangkaian perayaan Hari Harimau Sedunia 2017 sebagai wujud dukungan dan kepedulian kita terhadap kelestarian satwa harimau sumatera.

Pemerintah bersama para penggiat konservasi harimau dalam beberapa waktu terakhir sangat intensif memerangi kejahatan terhadap satwa liar, termasuk pembersihan habitat-habitat harimau dan satwa-satwa lain dari perangkap atau jerat.

"Kolaborasi yang telah dilakukan merupakan contoh bagaimana pemerintah bersinergi dengan semua lapisan masyarakat dalam mencapai tujuan bersama dalam membangun Indonesia menjadi lebih baik," kata Wiratno.

Saksikan video menarik di bawah ini:

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya