AS Uji Coba Senjata Laser Penghancur Pertama di Dunia

Senjata laser penghancur yang diklaim oleh AS sebagai 'pertama di dunia' itu telah siap dioperasikan dari sebuah kapal tempur.

oleh Rizki Akbar Hasan diperbarui 18 Jul 2017, 19:20 WIB
Sistem persenjataan laser 'LaWS' AS di USS Ponce (US Navy/Wikimedia Commons)

Liputan6.com, Washington, DC - Berlayar senyap di perairan Teluk Persia, yang sejak dulu hingga kini menjadi salah satu kawasan maritim rentan konflik, sebuah kapal Angkatan Laut Amerika Serikat melakukan uji coba senjata canggih teranyar --yang eksistensinya dulu hanya dapat dibayangkan dalam film sains fiksi.

Senjata teranyar itu adalah sistem laser penghancur bernama LaWS (Laser Weapon System). Bukan fiksi maupun isapan jempol, eksistensi LaWS benar-benar nyata dan telah siap beroperasi (battle ready) di kapal logistik amfibi USS Ponce yang kini tengah berlayar di laut Teluk Persia. Demikian seperti yang diwartakan oleh CNN, Selasa (18/7/2017).

"Senjata itu lebih presisi jika dibandingkan dengan proyektil biasa. Tak seperti senjata konvensional lain, LaWS dapat beroperasi dan ditembakkan ke seluruh target di darat, air, maupun udara," jelas Kapten AL Christopher Wells.

Kapten Wells juga mengklaim bahwa, LaWS mampu mencapai target 50.000 kali lebih cepat jika dibandingkan dengan kecepatan Intercontinental Ballistic Missile System (ICBM).

USS Ponce (Wikimedia Commons)

"Memiliki kecepatan cahaya, laser itu juga menembakkan partikel foton bermuatan besar ke sasaran," jelas Letnan AL Cale Hughes, kepala pengoperasian LaWS di USS Ponce.

Foton merupakan partikel elementer dalam fenomena elektromagnetik yang membawa residu radiasi, seperti pada gelombang radio atau sinar-X. Foton berbeda dengan partikel elementer lain, seperti elektron dan quark, karena ia tidak bermassa. Dan, dalam ruang vakum, foton selalu bergerak dengan kecepatan cahaya.

Dalam sebuah demonstrasi, jurnalis CNN menyaksikan mekanisme cara kerja dan pengoperasian LaWS dari USS Ponce.

Pertama, sebuah pesawat nirawak dummy atau bohong-bohongan diterbangkan oleh seorang petugas. Pesawat itu berperan sebagai sasaran tembak.

Di saat yang bersamaan, operator LaWS --yang berjumlah tiga orang-- mempersiapkan senjata laser tersebut. Sebagian kru memastikan kondisi fisik LaWS di anjungan kapal, sementara yang lain mengoperasikan komputer di ruang kontrol, yang merupakan pusat sistem kendali senjata laser tersebut.

Pusat kendali sistem senjata laser 'LaWS' AS di USS Ponce (US Navy/Wikimedia Commons)

Sekejap setelah itu, sayap pesawat nirawak dummy yang menjadi target, terbakar, kemudian jatuh ke lautan. Secara senyap, senjata LaWS diklaim berhasil menghancurkan target tersebut.

"Senjata itu, menyasar target menggunakan penginderaan suhu panas serta menembakkan partikel foton elektromagnetik tak kasat mata, sehingga residu tembakkan tidak nampak dan tanpa suara. Senyap, tepat sasaran, dan efektif," kata Letnan Hughes.

Angkatan Laut AS juga mengklaim bahwa LaWS mampu meminimalisasi dampak kerusakan sampingan --yang biasanya dihasilkan oleh senjata konvensional-- dalam sebuah peperangan.

"Kami tidak perlu khawatir tentang proyektil yang melenceng dari sasaran," ujar Kapten Wells.

Sistem persenjataan senilai US$ 40 juta per-unit itu, diklaim oleh AS, dapat beroperasi dengan biaya minim. Karena, senjata itu tidak memerlukan amunisi maupun proyektil.

"Hanya satu dollar setiap satu kali tembak," klaim Hughes.

Sejatinya, menurut sang kapten, LaWS ditujukan untuk melumpuhkan pesawat atau kapal kecil serta melakukan serangan balasan dari ancaman misil udara

"Selama ini, senjata itu beroperasi efektif," tambahnya.

Saat ini, militer AS mengaku tengah berupaya untuk meningkatkan kapabilitas LaWS agar mampu menghancurkan misil kelas kakap. Dan Hughes mengatakan, "mungkin nanti bisa."

Saksikan juga video berikut ini

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya