Makna Arak-arakan Kerbau di Pesta Lomban Jepara

Melarung kepala kerbau yang sudah diarak sebelumnya menjadi puncak acara Pesta Lomban.

oleh Edhie Prayitno Ige diperbarui 01 Jul 2017, 23:02 WIB
Kerbau ini mendapat kehormatan sebagai bintang utama saat kirab, sebelum akhirnya disembelih. (foto : Liputan6.com / edhie prayitno ige)

Liputan6.com, Jepara - Merayakan sepekan lebaran atau biasa disebut Syawalan, masyarakat Jepara menggelar Pesta Lomban. Dalam pesta itu, masyarakat akan melarung kepala kerbau sebagai ungkapan syukur.

Rangkaian Pesta Lomban diawali dengan mengarak kerbau yang hendak disembelih sebagai bentuk penghormatan. Tahun ini, kirab kerbau Lomban digelar Sabtu (1/7/2017) yang dimulai dari Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Ujung Batu menuju Rumah Pemotongan Hewan (RPH) di Kelurahan Jobokuto.

Tiba di RPH, Bupati Jepara Ahmad Marzuqi bertugas menjadi eksekutor. Kerbau yang diarak, disembelih oleh bupati. Selanjutnya, daging kerbau yang diarak dibagikan kepada masyarakat nelayan untuk diolah menjadi aneka masakan.

Menurut Marzuqi, selain melarung kepala kerbau, juga akan digelar pementasan wayang kulit. Pada gilirannya nanti, kepala kerbau itu akan dilarung, dagingnya dimasak untuk makan bersama di TPI.

"Makan bersama sambil menyaksikan pertunjukan wayang kulit sebelum prosesi Larungan besok pagi," kata Marzuqi.

Menurut Marzuqi, penyembelihan kerbau dalam kegiatan pekan Syawalan adalah ungkapan rasa syukur. Adapun nilai edukasinya adalah mengajak masyarakat untuk ikhlas bersedekah.

"Dagingnya disedekahkan pada masyarakat, kepala kerbau yang dilarung juga dimaksudkan sebagai sedekah untuk makhluk Allah SWT yang ada di laut," kata Marzuqi.

Tradisi pesta Lomban ini telah menjadi bagian masyarakat nelayan di Jepara. Kegiatan serupa juga dihelat oleh masyarakat nelayan di kepulauan Karimunjawa. Bedanya, di Karimunjawa yang dilarung bukan kepala kerbau, melainkan kepala kambing.

 

Saksikan Video Menarik di Bawah Ini:

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya