Gawat, 20 Spesies Ikan Asli Danau Maninjau Punah

Dari 34 spesies ikan asli Danau Maninjau, yang masih bertahan hidup hanya tinggal 14 spesies.

oleh Liputan6.com diperbarui 26 Mei 2017, 13:48 WIB
Dua Danau yang menjadi ikon Sumatera Barat adalah Danau Maninjau dan Singkarak. Coba simak cerita berikut

Liputan6.com, Lubukbasung - Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menyatakan dari 34 spesies ikan asli Danau Maninjau, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, yang masih bertahan hidup hingga saat ini tinggal 14 spesies. Adapun 20 jenis lainnya sudah mengalami kepunahan.

"Ke-14 spesies ikan yang masih bertahan itu jenis rinuak, bada, gupareh, asang, nila, mas, gabus, lobster dan lainnya," kata Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Loka Alih Teknologi Penyehatan Danau LIPI, Jojo Sudarso di Lubukbasung, Jumat (26/5/2017), dilansir Antara.

Ia menerangkan, ke-20 spesies ikan lainnya seperti jenis betok, sidat, dan cide-cide sudah punah atau tidak ditemukan lagi di perairan Danau Maninjau. Punahnya ikan asli danau itu akibat penangkapan ikan secara berlebihan yang dilakukan nelayan, pencemaran, serta dimangsa ikan lain.

"Ikan nila, patin, dan dan gabus merupakan predator ikan dengan ukuran kecil," katanya.

Agar ke-14 spesies ikan ini tidak benar-benar punah, UPT Loka Alih Teknologi Penyehatan Danau LIPI kini mencoba membudidayakan jenis ikan asang, bada, rinuak dan gupareh.

Selanjutnya, LIPI akan menebar ikan asang sebanyak 40 ribu ekor, bada 100 ribu ekor, gupareh 500 ekor, dan rinuak sebanyak 250 ekor. "Bibit ikan ini akan dilepas ke Danau Maninjau dalam waktu dekat. Ini merupakan program kita pada 'Save Danau Maninjau' yang digagas Pemkab Agam," katanya.

Selain membudidayakan ikan asli danau, pihaknya juga membuat zona konservasi perikanan, mengimbau nelayan untuk tidak menangkap ikan asli danau di sekitar sumber air, dan tidak menggunakan racun.

Danau seluas 9.737,5 hektare dan terletak di Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, itu diketahui dalam kondisi tercemar berat akibat pakan ikan dan limbah rumah tangga.

Dengan kondisi ini, katanya, terjadi 11 kali kematian ikan keramba jaring apung secara mendadak dengan jumlah sekitar ribuan ton selama 2016.

Untuk mengatasi ini, pemerintah harus mengatur jumlah keramba jaring apung untuk mengatasi pencemaran danau akibat limbah pakan ikan. Selain itu, limbah rumah tangga harus diolah dulu sebelum masuk ke danau dan petani menggunakan pupuk ramah lingkungan untuk padi dan tanaman lain.

"Kita optimistis kondisi air danau akan kembali pulih apabila ada kemauan dari masyarakat untuk mengurangi jumlah keramba dari 23 ribu unit menjadi 6 ribu unit, tidak memasukkan limbah rumah tangga ke danau," kata Jojo.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Agam, Yulnasri mengatakan Pemkab Agam telah melibatkan seluruh organisasi perangkat daerah untuk menyelamatkan danau dari pencemaran dan telah membentuk tim satuan tugas untuk membersihkan danau.

Selanjutnya, pihaknya menyosialisasikan kondisi danau kepada masyarakat dan menyamakan persepsi antar masyarakat tentang keadaan Danau Maninjau.

"Setiap hari satgas tersebut mampu mengeluarkan enceng gondok dari dalam danau sebanyak dua kontainer atau sekitar 10 meter kubik. Sosialisasi telah dilaksanakan di setiap nagari atau desa adat," kata Yulnasria.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya