Tokoh Gorontalo Diimbau Pakai Pakaian Karawo Jelang Puasa

Sulaman karawo merupakan kain khas Gorontalo yang produksinya kerap pasang surut.

oleh Aldiansyah Mochammad Fachrurrozy diperbarui 08 Mei 2017, 17:00 WIB
Sulaman karawo merupakan kain khas Gorontalo yang produksinya kerap pasang surut. (Liputan6.com/Aldiansyah Mochammad Fachrurrozy)

Liputan6.com, Gorontalo - Sulaman karawo merupakan kerajinan lokal yang terus dipromosikan oleh Pemerintah Daerah Gorontalo. Di tengah persaingan bisnis, produksi karawo kerap mengalami pasang surut.

Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Gorontalo mencatat, produksi sulaman karawo selama Triwulan I 2017 turun sebesar 9,83 persen dibandingkan dengan Triwulan IV 2016. Dari catatan BPS, produksi sulaman karawo yang dikategorikan sebagai satu-satunya industri tekstil di Provinsi Gorontalo ini yang paling dominan penurunannya.

Setelah karawo, industri manufaktur mikro dan kecil (IMK) yang mengalami penurunan adalah barang dari kayu dan gabus (tidak termasuk furnitur) dan barang anyaman dari bambu, rotan dan sejenisnya sebesar 7,99 persen. Industri barang logam bukan mesin dan peralatannya menyusul di belakangnya sebesar 2,83 persen.

Sedangkan, IMK yang mengalami kenaikan pada Triwulan I 2017 adalah industri percetakan dan reproduksi media rekaman 43,95 persen, industri pengolahan lainnya 25,90 persen, dan disusul industri alat angkutan lainnya 24,86 persen.

Kepala BPS Provinsi Gorontalo, Eko Marsoro, dalam keterangan persnya menyatakan, penurunan produksi karawo ini disebabkan oleh faktor permintaan. "Jadi karena faktor demand (permintaan) dan sepertinya ini merupakan faktor musiman. Ini kan berbeda dengan industri tekstil yang berorientasi ekspor," ucap Eko, Jumat, 5 Mei 2017.

Sebagai bukti penurunan produksi karawo hanya karena faktor musiman juga dikuatkan dengan hasil produksi setahun terakhir. Dari catatan BPS, produksi tekstil berupa karawo jika dibandingkan dengan Triwulan I 2016 mengalami kenaikan sebesar 1,05 persen.

Dia berpendapat faktor musiman itu bisa diminimalkan jika pemerintah, swasta, bahkan tokoh masyarakat bisa turun tangan. Misalnya, mewajibkan seragam karawo kepada aparatur sipil negara (ASN). "Sudah ada intervensi dari pemerintah, tapi saya prediksi seragam karawonya setiap ASN mungkin hanya satu saja," kata Eko.

Selain intervensi pemerintah, inisiatif pengusaha sulam karawo juga dibutuhkan. Eko menilai perlu ada inovasi mengingat setiap orang punya selera berbeda. "Misalnya, karawo kan warnanya mencolok, itu biasanya laki-laki kebanyakan tidak suka pakaian mencolok di banding ibu-ibu," ujar Eko.

Menjelang bulan Ramadan, Eko Marsoro menyarankan agar tokoh masyarakat dan agama juga memakai pakaian karawo ketimbang baju koko yang diproduksi dari luar daerah.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya