Tambal Ban Tubeless Justru Merusak, Benarkah?

Menambal ban dengan teknik tusuk justru bisa merusak lapisan ban.

oleh Rio Apinino diperbarui 13 Apr 2017, 20:13 WIB

Liputan6.com, Jakarta - Satu cara paling populer yang dikenal untuk menambal ban tubeless adalah dengan teknik "menusuk" atau plug repair. Dengan cara ini, lubang ditutup secara paksa oleh lem tambal dengan alat congkel.

Praktik tambal ban seperti ini ada di seluruh SPBU yang ada stasiun pengisian nitrogennya, atau di tambal ban khusus. Bahkan cara seperti ini juga dapat dilakukan sendiri. Sekarang sudah banyak yang jual satu set perlengkapannya.

Menariknya, menurut salah satu petinggi pabrikan ban Indonesia, praktik seperti ini sebetulnya tidak direkomendasikan.

"Secara teknologi belum ada yang bisa menjamin (teknik tusuk) tidak menghasilkan efek negatif," ujar Yulfachmi, Technical Manager ban IRC dari PT Gajah Tunggal, di Karawang, Jawa Bara baru-baru ini.

Meski belum ada riset soal itu, namun secara logis teknik tusuk ini bisa merusak ban.

"Ban tubeless itu banyak lapisan. Waktu motor jalan, ada gerakan di lapisan itu. Kalau ditambal, bagian itu ada sela (meski sangat kecil) dimana angin bisa masuk ke lapisan-lapisan ban itu. Efeknya ban rusak. Bannya benjol," terangnya.

Fachmi mengatakan, meski awalnya sekat antara lem tambal dan ban tertutup rapat, namun seiring dengan bergeraknya ban, sekat ini perlahan akan melebar. Dengan begitu justru lubang pada ban makin lama akan makin membesar.

Lantas kalau sudah seperti ini, bagaimana? Fachmi menilai, idealnya memang mengganti ban, meski menambal tidak haram. "Tapi kan perlu ingat kalau ban tubeless itu tidak langsung kempes. Ada batas toleransinya," tutup Fachmi.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya