Made Tri Ari Penia: Perempuan Peneliti dari ITB

Di tengah kesibukannya meneliti di banyak daerah dan menjadi dosen S1, S2, dan S3 di ITB, tak membuat Penia melupakan keluarganya.

oleh Sunariyah diperbarui 10 Apr 2017, 18:11 WIB
Peneliti dan dosen ITB Made Tri Ari Penia Kresnowati (Liputan6.com)

Liputan6.com, Jakarta - Meneliti menjadi bagian dari kehidupan DR Made Tri Ari Penia Kresnowati ST, Msc. Sejak duduk di bangku kuliah, perempuan yang menimba ilmu di jurusan Teknik Kimia Institut Teknologi Bandung (ITB) ini sudah aktif meneliti.

Aktivitas itulah yang kemudian membawa Made Tri Ari Penia Kresnowati yang akrab disapa Penia, menjadi salah satu wanita yang diperhitungkan dan dikenal banyak orang.

Pada 2008, Penia yang lahir di Bandung pada 5 Mei 1977 meraih penghargaan L’Oreal-UNESCO for Woman in Science 2008, yang diselenggarakan L’Oreal dan UNESCO, berkat penelitiannya di bidang teknologi bioproses.

Penia membuat penelitian berjudul Teknologi Bioproses: Konsepsi Prototipe Bioreaktor untuk Pengembangan Stem Cell. Tujuan penelitian ini untuk membuat stem cell berguna mengatasi ketersediaan darah untuk transfusi.

"Saya ingin mencoba objek lain yang lebih rumit dan lebih menantang dan punya nilai ekonomis serta bisa terus dikembangkan untuk kemajuan dunia kesehatan," tutur Penia seperti dikutip dari insinyurkimia.com.

Penelitian itu telah dilakukan di Monash University, Australia, bekerja sama dengan para pakar stem cell di Australian Stem Cell Centre dan beberapa pihak terkait di ITB.

Tak berhenti disitu, Penia yang meraih cum laude di jenjang Strata 1 ITB dan kemudian melanjutkan program magister dan Doktor atau Ph.D di Universitas Teknologi Delft, Belanda terus melakukan penelitian.

Beberapa penelitian yang telah dan sedang dilakukannya yakni Produksi 'Green' Xilitol: Pengolahan Biomassa Limbah Kelapa Sawit secara Terpadu menjadi Bioetanol dan Bahan – Bahan Kimia yang Bernilai (2012 – 2014). Penelitian ini didanai oleh DIKTI melalui program Penelitian Strategis Nasional.

Penelitian lainnya yakni Penerapan Sistem Identifikasi Fingerprinting Metabolik Untuk Memetakan Proses Fermentasi Biji Kakao, Dalam Rangka Peningkatan Mutu Biji Kakao Olahan Indonesia yang didanai oleh ITB (2014), Pengembangan Model Kinetika Proses Fermentasi Biji Kakao Dalam Rangka Peningkatan Mutu Biji Kakao Olahan Indonesia yang didanai oleh ITB (2015), dan Rekayasa Proses Hidrolisis Tandan Kosong Sawit untuk Produksi Green Xylitol (2016).

Penelitian terbarunya saat ini tentang Pengembangan Proses Produksi Tepung Fercaf secara Semi Kontinyu pada Skala Pilot, didanai oleh Ristek melalui Program Pengembangan Teknologi Industri.

Deretan penetian tersebut telah membuat Penia mengumpulkan banyak penghargaan baik dari tempatnya mengajar yakni ITB, maupun dari luar seperti pemerintah dan lembaga internasional.

Di tengah kesibukannya meneliti di banyak daerah dan menjadi dosen S1, S2, dan S3 di ITB, tak membuat Penia melupakan keluarganya. Sebisa mungkin dia menghabiskan waktu bersama dua buah hati dan suaminya, wawan Dhewanto. Di saat libur, bersama suami dan anak-anaknya, Penia akan berkebun atau membaca buku.

Saat ditanya soal namanya, Made, kepada Liputan6.com, Senin (10/4/2017), ibu dosen ini mengatakan, nama tersebut dibubuhkan karena sang ayah berasal dari Bali.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya