Untuk Apa Kementerian Sosial Mencari Suku Mante?

Khofifah meminta kepada Dinas Sosial Provinsi Aceh untuk memberikan pemahaman pada masyarakat bahwa keberadaan Suku Mante harus dilindungi.

oleh Nila Chrisna Yulika diperbarui 08 Apr 2017, 08:49 WIB
Sejarawan Aceh menilai kemungkinan Suku Mante atau mantra masih hidup bisa saja terjadi. (Liputan 6 SCTV)

Liputan6.com, Jakarta - Kementerian Sosial saat ini bertekad untuk mencari keberadaan Suku Mante. Menurut Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa, kementeriannya ingin melindungi ekosistem mereka jika ditemukan.

Sebab, menurut dia, pemerintah akan melindungi segenap warga negara Indonesia, tak terkecuali warga Suku Mante yang tinggal di pedalaman hutan dan gua di Aceh. Perlindungan ini mencakup habitat, ekosistem, dan kearifan lokalnya sehingga akar budaya mereka tidak hilang.

Hal ini disampaikan Mensos dalam Pertemuan Forum Koordinasi Pemberdayaan Komunitas Adat Terpencil Tahun 2017, yang membahas soal Suku Mante. Dalam pertemuan ini hadir sebagai pembicara Antropolog Universitas Indonesia Prof Budhisantoso, Antropolog Universitas Gajah Mada Prof. Dr. Sjafri Sairin, Kepala Dinas Sosial Provinsi Aceh Al Hudri, dan Fauzan Adhim, warga Aceh yang pernah berinteraksi dengan warga Suku Mante.   

"Tim kami juga tengah mengumpulkan hasil-hasil studi, kajian dan literatur tentang kondisi sosial budaya mereka untuk menentukan tindak lanjut yang akan dilakukan," papar Khofifah dalam siaran persnya, Sabtu (8/4/2017).

Dikatakan Khofifah, viralnya video salah seorang pengendara trail mengunggah seorang warga Suku Mante di tengah hutan baru-baru ini, menimbulkan beragam reaksi. Banyak orang ingin memburu dan mencari tahu hingga ke hutan-hutan di Aceh yang dikhawatirkan dapat mengganggu kehidupan warga Suku Mante.

Oleh karena itu, pihaknya telah meminta kepada Dinas Sosial Provinsi Aceh untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat bahwa keberadaan suku ini harus dilindungi bersama-sama.

"Suku Mante ini sudah ada sejak lama dan mereka berada di hutan dan gua. Andaikan menemukan, jangan diburu atau ditakut-takuti. Karena mereka juga manusia, sama seperti kita," kata Khofifah.

Dari pengakuan seorang warga Aceh Tengah, Fauzan, ia mengaku pernah berinteraksi dengan salah seorang warga Suku Mante pada 2014. Saat itu ia bahkan ditolong dengan ditunjukkan arah yang benar saat tersesat di hutan. Caranya dengan menggoreskan kuku jari tangannya di tanah ke kanan, ke kiri, atau lurus untuk menunjukkan jalan keluar dari hutan.

"Pak Fauzan juga pernah menemukan warga Suku Mante berjenis kelamin perempuan yang meninggal di hutan karena tangannya tertusuk jebakan untuk badak. Saat itu beliau salatkan jenazah dan menguburkannya di hutan. Jadi benar adanya mereka tinggal di dalam hutan. Maka saya imbau kita lindungi mereka, jangan diburu," papar Khofifah.

Direktur Jenderal Pemberdayaan Sosial Hartono Laras mengungkapkan, berdasarkan laporan dari Dinas Sosial Provinsi Aceh, Suku Mante tersebar di 14 lokasi di Provinsi Aceh. Di antaranya di Kawasan Samarkilang Bener Meriah, Gunung Goh Pase Aceh Utara, Kaki Gunung Halimun Pidie, Hutan Pameu Aceh Tengah, Hutan Kappi Gayo Lues, dan lainnya.

Namun, kata Hartono, jumlah warga Suku Mante belum dapat dikonfirmasi secara pasti mengingat keberadaan mereka yang sulit terdeteksi.

"Lingkungan sekitar Suku Mante harus dijaga karena suku ini merupakan aset bangsa untuk dilestarikan. Bagi Kemensos, mereka adalah warga negara Indonesia dan harus kita berdayakan," tutup Khofifah.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya