Rusia: 1.000 Militan ISIS Tewas dan Terluka di Palmyra

Setidaknya 1.000 militan ISIS tewas atau terluka oleh pasukan Suriah dan pesawat Rusia saat mengambil alih Palmyra.

oleh Citra Dewi diperbarui 06 Mar 2017, 07:21 WIB
Ketiga tawanan itu dianggap yang pertama tewas dengan cara diledakkan sejak kelompok militan tersebut menyita bangunan kuno itu.

Liputan6.com, Palmyra - Setidaknya 1.000 militan ISIS tewas atau terluka oleh pasukan pemerintah Suriah dan pesawat Rusia saat mengambil alih Palmyra dan wilayah di sekitarnya dari kelompok militan itu.

Dikutip dari CNN, Senin (5/3/2017), Letnan Jenderal Sergei Rudskoy dari Kementerian Pertahanan Rusia mengatakan, serangan tersebut direncanakan oleh penasihat Rusia. Sementara pasukan Suriah terus menyerang ke bagian timur kota kuno itu.

Pasukan Suriah dengan dibantu oleh Rusia, berhasil mengambil alih Palmyra pada pekan lalu dari cengkeraman ISIS.

Peristiwa itu menandai berakhirnya pendudukan Palmyra untuk keduanya kalinya oleh ISIS. Saat pertama kali mereka menguasai wilayah tersebut, militan ISIS menghancurkan sejumlah monumen paling terkenalnya.

Militan ISIS berhasil dipukul mundur dari Palmyra pada Maret tahun lalu. Namun pada Desember, mereka kembali mengambil alih kontrol wilayah tersebut.

Duta Besar Suriah untuk PBB, Bashar al-Jaafari menegaskan bahwa pihaknya telah merebut kembali Palmyra pada 2 Februari 2017. Dia mengatakan, kota tersebut telah dibebaskan dari tangan kelompok teroris dan Presiden Bashar al-Assad telah menepati janjinya untuk mengusir mereka.

Menurut media lokal Rusia, Menteri Pertahanan Sergei Shoigu telah mengatakan kepada Presiden Vladimir Putin bahwa pasukan Suriah dengan bantuan Angkatan Udara Rusia telah sepenuhnya merebut kembali Palmyra.

Palmyra dipandang sebagai wilayah strategis bagi kedua belah pihak dalam konflik Suriah, di mana konflik tersebut telah berlangsung selama lebih dari lima tahun.

Tertelak di Provinsi Homs di pusat Suriah, Palmyra dianggap sebagai markas ISIS di Suriah.

Pada Januari lalu, gambar satelit memperlihatkan bahwa kelompok militan itu menghancurkan tetrapylon--struktur berpilar empat-- dan sebagian Teater Romawi.

Kepala Unesco, Irina Bokova, menggambarkan kehancuran peninggalan bersejarah di Palmyra itu sebagai "kejahatan baru dalam perang".

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya