Mandi di Curug Tanpa Persiapan, 2 Mahasiswi Tewas Bergandengan

Kedua mahasiswa yang meninggal sambil bergandengan tangan di curug itu diketahui tak bisa berenang.

oleh Aris Andrianto diperbarui 27 Feb 2017, 10:02 WIB
Kedua mahasiswa yang meninggal sambil bergandengan tangan di curug itu diketahui tak bisa berenang. (Liputan6.com/Aris Andrianto)

Liputan6.com, Purwokerto – Dua mahasiswi STMIK Amikom Purwokerto meninggal dunia akibat terseret pusaran air di Curug Kedung Nila Purwokerto. Mereka diketahui bernama Alicia Putri (21) dan Fitria Nur Khasanah.

"Keduanya meninggal saat sedang mandi di kedung yang berada di bawah air terjun," kata Kapolsek Baturraden Banyumas AKP Susanto, Jumat, 24 Februari 2017.

Susanto mengatakan, kedua mahasiswi tersebut meninggal bukan karena selfie, sehingga terjatuh ke kedung. Kedung merupakan bagian terdalam dari sungai. Biasanya berada di bawah air terjun atau curug.

Ia mengatakkan, insiden tersebut terjadi pada Kamis, 23 Februari 2017. Polisi datang ke lokasi kejadian sekitar 30 menit setelah ada laporan. Saat itu, tubuh keduanya belum terlihat di permukaan.

Dari hasil pemeriksaan saksi-saksi, kedua korban diketahui tidak bisa berenang. Ia menyebutkan, sebelumnya di sejumlah lokasi kedung juga pernah terjadi orang tenggelam.

Salah satu saksi, Faisal mengatakan, ia bersama rekan-rekannya memang sedang piknik libur kuliah. "Kami bersepuluh naik motor. Kedung Nila saat ini sedang ngehits di Purwokerto," kata dia.

Saat itu, sambung dia, cuaca sedang gerimis. Setelah reda, beberapa orang mulai mandi ke dalam kedung. Saat sedang mandi itulah, kedua mahasiswi itu terseret air ke tengah kedung.

Keduanya sempat terlihat panik dan mencoba bergerak ke pinggir. Meski sempat bergandengan tangan dan terlihat timbul tenggelam, keduanya tak bisa diselamatkan.

Kukuh Sukmana Hasan Surya, salah satu pegiat alam bebas mengatakan, kedung itu memang sering digunakan para pemburu curug untuk melakukan olah raga alam bebas.

"Curug ini cukup terkenal di kalangan pemburu curug," kata dia.

Ia menyebutkan, di lereng Gunung Slamet terdapat ratusan air terjun atau curug yang menawan. Namun, banyak yang mandi atau terjun dari curug tanpa persiapan atau pengalaman yang memadai.

Ari Hidayat, salah satu pengamat burung liar di Purwokerto mengatakan, sejak marak perburuan curug oleh anak-anak muda, ekosistem sungai mulai terganggu. "Banyak burung yang sebelumnya terlihat, kini sudah tidak ada lagi," kata dia.

Belum lagi dengan sampah yang ditinggalkan oleh pengunjung. Ia berharap pemerintah memberikan rambu-rambu yang jelas mengenai wisata alam bebas ini karena keragaman hayati bisa terganggu.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya