Harga Emas Menguat Terdorong Dolar AS

Indeks dolar AS turun 0,1 persen sehingga mendorong kenaikan harga emas.

oleh Agustina Melani diperbarui 16 Feb 2017, 06:45 WIB

Liputan6.com, Chicago - Harga emas menguat didorong dolar Amerika Serikat (AS) yang tertekan sehingga beri angin segar untuk komoditas logam.

Harga emas naik 0,6 persen ke level US$ 1.233,10 per ounce usai berada di kisaran US$ 1.218. Sementara itu, harga perak untuk pengiriman Maret menguat 0,4 persen menjadi US$ 17.963 per ounce.

Kenaikan harga emas juga terjadi di tengah bursa saham Amerika Serikat atau wall street yang menguat. Itu didorong dari optimisme pemerintahan Donald Trump akan realisasikan pemangkasan pajak.  Selain itu, imbal hasil surat utang atau obligasi pun naik seiring pernyataan pimpinan bank sentral AS atau the Federal Reserve Janet Yellen soal suku bunga.

"Sebelumnya harga emas tidak berhubungan dengan di luar pasar. Penguatan harga emas yang terjadi membuktikan skeptimiseme terhadap kestabilan bursa saham," ujar Michael Armbruster, Pendiri Altavest, seperti dikutip dari laman Marketwatch, Kamis (16/2/2017).

"Namun kami mengharapkan baik saham dan obligasi akan berbalik arah sehingga menekan logam mulia. Ini akan menarik untuk dilihat," tambah dia.

Pada perdagangan Selasa kemarin, pelaku pasar fokus terhadap testimoni Janet Yellen. Dia mengkonfirmasi kalau inflasi mulai menguat. Selain itu, kenaikan suku bunga dapat lebih cepat. "Ini seiring dengan rencana kenaikan suku bunga. Ini sangat baik untuk emas," ujar Nico Pantelis, Kepala Riset Secular Investor.

Sementara itu, pimpinan bank sentral AS lain yaitu pimpinan bank sentral AS dari Boston Eric Rosengren menuturkan, kalau kenaikan suku bunga dapat lebih dari prediksi bank sentral AS. Sebelumnya diperkirakan suku bunga bank sentral AS naik 3 kali pada 2017. Ada pun indeks dolar AS turun tipis 0,1 persen usai diperdagangkan di level tertinggi usai pernyataan Yellen. Tekanan dolar AS mengangkat harga emas.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya