Gara-Gara Nama Mirip, Saham Ini Alami Lonjakan 164 Persen

Kadang sebuah nama bisa mengecoh seseorang. Ini juga yang terjadi ketika investor salah beli saham akibat nama perusahaan yang mirip.

oleh Agustina Melani diperbarui 13 Feb 2017, 13:15 WIB
Ilustrasi pasar saham

Liputan6.com, Jakarta - Kadang sebuah nama bisa mengecoh seseorang. Ini juga dapat terjadi di pasar modal. Sebuah perusahaan start-up yang kurang terkenal Snap Interactive tiba-tiba alami lonjakan nilai saham dalam beberapa hari ini.

Hal ini lantaran nama perusahaan yang mirip dengan perusahaan yang mau menggelar penawaran saham perdana atau initial public offering (IPO) yaitu Snapchat. Investor tampaknya terkecoh dengan nama kedua perusahaan tersebut.

Investor segera investasi ke Snap Interactive sehingga mendorong harga sahamnya melonjak 164 persen dalam empat hari. Hal itu pun terjadi bersamaan dengan pengajuan IPO Snapchat.

Snap telah mengajukan IPO senilai US$ 3 miliar pada pekan lalu. Ini merupakan IPO terbesar di sektor teknologi dalam setahun ini.

Ada pun Snapchat yang didirikan pada 2011, berada di San Francisco, dan merupakan aplikasi real time video komunikasi yang memudahkan penggunanya berkomunikasi dengan para teman dekat dengan video.

Pengguna aktif Snapchat mencapai 158 juta hingga Desember 2016. Jumlahnya naik 48 persen year on year (YoY). Akan tetapi, perseroan mencatakan rugi dari US$ 372,9 juta pada 2015 menjadi US$ 514,6 juta pada 2016.

Mengutip laman independent.co.uk, seperti ditulis Senin (13/2/2017), nilai Snap Interactive yang bergerak di provider jasa video chat dan online dating menjadi US$ 69 juta.

Kesalahan nama saham di pasar modal bukan untuk pertama kalinya. Pada 2013, saham Tweeter Home Entertanime Group melonjak lebih dari 600 persen seiring penjualan saham Twitter.

Hampir sama, saham Oculus VisionTech Ind naik 155 persen, usai Facebook mengumumkan akan membeli Oculus VR. Selain itu, pada hari pemilihan umum di Amerika Serikat, saham perusahaan China kurang terkenal yang disebut seperti "Trumps win big" turut melonjak. Lantaran saat itu Donald Trump menjadi kandidat presiden, suaranya mampu ungguli pesaingnya Hillary Clinton.

Tag Terkait

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya