Alasan Ilmiah di Balik Gejala Menstruasi yang Parah

Gejala menstruasi yang sangat parah pada beberapa wanita sebenarnya disebabkan oleh kondisi yang disebut dengan PMDD.

oleh Tassa Marita Fitradayanti diperbarui 23 Jan 2017, 18:46 WIB

Liputan6.com, Jakarta Gejala menstruasi yang sangat parah pada beberapa wanita sebenarnya disebabkan oleh kondisi yang disebut dengan Premenstrual Dysphoric Disorder (PMDD). Kondisi ini mempengaruhi dua hingga lima persen wanita diseluruh dunia. Dan ternyata, ada keterkaitan genetik yang menyebabkan mereka sering mengalami mood swing.

Sebuah studi baru yang dilakukan oleh National Institutes of Health, menemukan bahwa beberapa wanita dengan gen kompleksn akibat PMDD, menjadi lebih rentan terhadap depresi, kecemasan, dan rasa mudah tersinggung. Para peneliti mengatakan, hal ini menunjukkan lebih banyak bukti bahwa PMDD mempengaruhi bagaimana sel-sel dalam tubuh seseorang merespon estrogen dan progesteronnya.

Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Molecular Psychiatry tersebut melihat bagaimana tubuh wanita dengan PMDD bereaksi terhadap hormon estrogen dan progesteronnya, dengan cara “mematikan” dan “menghidupkan” kembali kedua hormon tersebut.

Hasilnya, ketika para peneliti “mematikan” hormon estrogen dan progesteronnya, para wanita tersebut melaporkan bahwa gejala PMDD-nya menghilang. Tetapi ketika para peneliti kembali menghidupkan kembali hormon tersebut, gejala menstruasi yang terasa parah pun kembali mereka rasakan.

Namun selain itu, para peneliti juga mengamati sel-sel darah putih para wanita dengan PMDD, yang menunjukkan bahwa sel-sel mereka bereaksi secara berbeda ketika terpapar oleh kedua hormon tersebut, jika dibandingkan dengan sel-sel dari wanita yang tidak memiliki PMDD.

Sehingga secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa ada alasan biologis mengapa wanita dengan PMDD mengalami gejala menstruasi yang sangat parah akibat perubahan hormonnya, seperti yang dilansir dari Womansday, Senin (23/1/2017).

“Ini adalah momen besar bagi kesehatan wanita, karena hal ini menunjukkan bahwa wanita dengan PMDD memiliki perbedaan intrinsik dalam instrumen molekularnya ketika menanggapi hormon seksnya. Jadi jika Anda memiliki PMDD, Anda bukan hanya sedang `mengalami hari yang buruk` ketika mood swing terjadi, tetapi ini karena kondisi biologis Anda,” ujar salah satu peneliti studi, Dr. David Goldman.

Tag Terkait

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya