Klub Sepak Bola Pengungsi Rohingya yang Curi Perhatian

Rohingya FC, tim ini memang dibentuk dari dan oleh sekelompok pengungsi dari etnis Rohingya.

oleh Risa Kosasih diperbarui 10 Jan 2017, 19:40 WIB
Rohingya FC. (sumber: fourfourtwo.com)

Liputan6.com, Selangor - Kekecewaan pasti dirasakan siapapun bila tim sepak bola yang dibelanya kalah. Begitu juga dengan Farouk Yousuf yang kecewa karena gagal membawa timnya Rohingya FC menembus liga semi-pro di negara bagian Selangor, Malaysia.

Seperti namanya, Rohingya FC, tim ini memang dibentuk dari dan oleh sekelompok pengungsi etnis paling teraniaya di dunia menurut PBB, yakni etnis Rohingya. Kekalahan tim yang dibela Farouk dari Soljabiru FC dengan skor 0-3 membuatnya kehilangan tempat pelarian singkat dari kehidupan mereka yang bermasalah dan perjuangan membela hak sebagai rakyat Myanmar.

"(Untuk 90 menit) Anda hanyalah seorang pesepakbola. Anda lupa tentang menjadi pengungsi, lupa soal masalah yang dihadapi orang-orang di sini dan di Myanmar," kata Farouk, pencetak gol terbanyak klub, seperti dilansir FourFourTwo, pada Selasa (10/1/2017) sore.

Ucapannya tak berlebihan karena semua perjuangan etnis ini terdokumentasi dengan baik oleh media-media internasional. Selain Malaysia, negara terdekat dari Myanmar, Indonesia juga menampung kelompok pengungsi ini.

Etnis Rohingya terasing di negeri sendiri. Mereka tak memiliki kewarganegaraan bahkan kesulitan untuk mengajukan diri sebagai warga negara di tempat mereka tinggal saat ini.

Salah satu masalah yang dirasakan pencari suaka dari muslim Rohingya adalah mereka tak terdaftar sebagai pengungsi di Komisi Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR). Dampaknya mereka tidak mendapat hak hukum untuk bekerja atau menerima pendidikan, yang membuat mereka harus bekerja secara ilegal untuk berjuang demi memenuhi kebutuhannya.

"Saya memiliki akta kelahiran, tapi saya tidak memiliki kewarganegaraan Malaysia. Saya telah mencoba untuk mengajukan permohonan itu berkali-kali, tapi departemen imigrasi selalu menolak saya, mengatakan bahwa salah satu orang tua saya harus menjadi warga negara Malaysia," kata Farouk lagi.

"Jadi, saya tidak diinginkan di kedua negara. Negara leluhur dan negara tempat saya lahir. Saya masih memperjuangkan hidup saya tapi tetap sulit dan menantang," kata Farouk.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya