Prajurit Yonif Linud 330 Siap Menantang Maut

Siap terjun di medan perang tentu syarat mutlak untuk menjadi seorang prajurit TNI. Ratusan prajurit Yonif Linud 330 Kostrad kini tengah bertugas menumpas GAM.

oleh Liputan6Diterbitkan 27 Januari 2002, 17:52 WIB
Liputan6.com, Cicalengka: Tugas prajurit TNI di daerah konflik, seperti di Aceh, tentu mempertaruhkan nyawa. Risiko itu sangat disadari prajurit TNI dan keluarganya. Kenyataan itu tampak jelas di Markas Batalyon Infanteri Lintas Udara 330 Komando Strategis Angkatan Darat di Cicalengka, Bandung, Jawa Barat. Para istri tak bisa menyembunyikan rasa haru, tatkala sang suami tiba dengan selamat usai sukses menunaikan tugas.

Batalyon yang berpegang pada Tri Dharma: Berjuang, Berbakti, dan Membangun ini telah beberapa kali berhasil dalam menjalankan operasi militer. Pada Juli 1995, Tim Khusus Pemburu batalyon ini berhasil menembak tokoh gerakan pengacau keamanan Timor Timur Rodax atau Komandan Unidade Sektor Laga. Pada Mei setahun kemudian, batalyon ini kembali berhasil membebaskan sandera di Mapenduma, Irianjaya. Pada awal 2002 ini, batalyon tersebut sukses mencatat sejarah dengan menembak mati Panglima Perang kelompok separatis Gerakan Aceh Merdeka Tengku Abdullah Syafei [baca: Pengalaman Tempur Linud Kostrad Menumbangkan Syafei].

Namun perjuangan pasti mengharuskan pengorbanan. Pertengahan 2001 silam, tiga prajurit tertembak dalam kontak senjata dengan GAM di Desa Jim Jim, Pidie, Aceh. Seorang di antaranya tewas, sedangkan dua orang lainnya cacat seumur hidup. Saat ini 636 prajurit dari Yonif Linud 330 bertugas dalam penumpasan gerakan separatis di Aceh. Sebanyak 117 prajurit lainnya termasuk korban cacat perang, tetap berdinas di Cicalengka.

Kendati begitu, Sari Rahayu Rahmawati, istri seorang prajurit mengatakan, para keluarga prajurit sangat menyadari risiko tersebut. Meski dengan keadaan cacat, mereka harus menerima dengan penuh kebanggaan karena telah membela negara. Hal senada diutarakan Anjar Wiratna, Ketua Persatuan Istri Tentara Ranting Yonif 330. Menurut Anjar, berbagai cara dilakukan para istri untuk mengusir kegelisahan, saat ditinggalkan suami pergi ke medan juang.

Markas Yonif Linud 330 yang dibangun di atas lahan seluas 40 hektare mulai digunakan sejak 20 Oktober 1984. Markas terdiri dari kantor administrasi, lima kantor kompi yang dilengkapi barak, dan perumahan prajurit.(DEN/Jeremy Teti)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya