Ponpes Al-Mukmin Berawal dari Pengajian

Ponpes Al-Mukmin, Sukoharjo, Jateng, berawal dari pengajian lohor di Masjid Agung Surakarta. Ponpes didirikan enam orang yang tiga di antaranya telah meninggal.

oleh Liputan6Diterbitkan 27 Januari 2002, 06:55 WIB
Liputan6.com, Sukoharjo: Belakangan ini, Pondok Pesantren Al-Mukmin Sukoharjo, Jawa Tengah, mendadak menjadi perbincangan hangat masyarakat. Hal ini bukan tanpa sebab, mengingat Fatur Rahman Al-Ghozi yang ditangkap Kepolisian Filipina lantaran kedapatan membawa satu ton bahan peledak itu pernah tercatat sebagai santri di Ponpes tersebut. Padahal, Pesantren Al-Mukmin awalnya hanya sebuah pengajian kuliah lohor di Masjid Agung Surakarta, Jateng. Tak disangka, kegiatan itu berlanjut dan justru memunculkan gagasan menjadi pesatren. Terhitung sejak 10 Maret 1972, Pondok Pesantren Islam Al-Mukmin berdiri di Jalan Gading Kidul Nomor 72A, Solo. Demikian diungkapkan seorang pimpinan Ponpes Al-Mukmin Kiai Haji Farid Ma`ruf di Dukuh Ngruki, Sukoharjo, Jateng, baru-baru ini [baca: Fatur Pernah Mondok di Ponpes Al-Mukmin].

Ma`ruf menambahkan, Ponpes Al-Mukmin didirikan enam orang yang tiga di antaranya telah meninggal, yaitu Abdullah Sungkar, Yoyo Rosywadi, dan Hasan Basri. Sedangkan yang masih hidup adalah Abdullah Baraja`, Abdul Qodar H. Daeng Mataset, dan Abubakar Baasyir --yang kini sedang diperiksa di Kepolisian Daerah Metro Jaya. Seiring perjalanan waktu, Ponpes mengalami perkembangan pesat. Itulah sebabnya pengurus memindahkan lokasi ke atas tanah wakaf di Dukuh Ngruki, Sukoharjo, Jateng, pada 1974. Lazimnya sebuah pesantren, suasana Islami dan sederhana juga terlihat di tempat ini.

Menurut Ma`ruf, selama ini, pesantrennya tak pernah meminta bantuan kepada pemerintah, organisasi massa, maupun partai politik. Namun, ia mengaku, tak menolak jika pemerintah atau lembaga lainnya hendak berinfaq ke Ponpes Al-Mukmin. Tentunya, dengan catatan tak memberikan syarat apapun. Rupanya, lantaran kesederhanaan itulah Ponpes Al-Mukmin hingga kini tertinggal jauh dengan Ponpes lainnya yang ada di Solo. Bahkan para pimpinan pondok, termasuk Abubakar Baasyir tak memiliki mobil. Untuk pergi ke suatu tempat, Baasyir hanya mengendarai sepeda motor. Karena itu, Ma`ruf menolak tuduhan bahwa Ponpes Al-Mukmin berhubungan secara organisatoris dengan jaringan Al-Qaedah.(SID/Teguh Hadi Prayitno dan Kukuh Ary Wibowo)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya