Uang Rupiah Baru Dinilai Mirip Yuan, Ini Kata Pengusaha

Ketua Kadin Rosan Roeslani menilai, uang rupiah baru sudah merepresentasikan Bhineka Tunggal Ika.

oleh Fiki Ariyanti diperbarui 20 Des 2016, 21:17 WIB

Liputan6.com, Jakarta - Penerbitan mata uang Rupiah baru dengan gambar pahlawan menjadi viral di dunia maya. ‎Netizen ramai membicarakan desain dan warna uang rupiah baru yang mirip dengan mata uang China, yuan. Hal ini mendapat tanggapan dari pengusaha.

Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Rosan P Roeslani menilai, uang rupiah baru saat ini sudah memiliki ciri khas Indonesia. Menunjukkan keberagaman adat istiadat, budaya negara ini, termasuk menghargai jasa pahlawan dengan memasukkan gambar pahlawan dalam desain rupiah baru.

"‎Jadi tidak mirip Yuan. Semua negara punya desain beda-beda, warna warni, jadi di pas-pasin saja lah. Desain saya rasa sudah mempresentasikan bhineka tunggal ika, karena ada background daerahnya, ada gambar pahlawan, jadi semua sudah ter-capture," jelas dia di kantor pajak, Jakarta, Selasa (20/12/2016).

Kehadiran uang rupiah baru, Rosan mengharapkan, menjadi momentum untuk lebih memberdayagunakan mata uang ‎Garuda. "Jadi kita harus bangga, apalagi diharapkan dengan rupiah baru proteksi uang lebih tinggi. Pemalsuan jadi lebih susah," tutur Rosan.

Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariyadi Sukamdani mengatakan, kehadiran uang rupiah baru cukup penting saat ini karena kebutuhan masyarakat terhadap uang. "Penting sih, karena sudah waktunya uang lama ditarik‎ dan diganti yang baru," ucapnya.

Dia justru mengomentari rencana penyederhanaan nominal rupiah atau redenominasi yang cukup baik. Namun pelaksanaannya harus menunggu momentum yang tepat, mengingat saat ini bukan waktu yang tepat untuk redenominasi.

"Tahun depan juga belum tepat untuk redenominasi, karena biar ekonomi stabil dulu, kalau masih rentan kan masih dinamis, belum siap. Khawatirnya malah menimbulkan inflasi, bisa jadi kacau karena biasanya orang Indonesia sukaa terlalu reaktif malah jadi spekulasi. Jadi cari waktu yang tepat untuk redenominasi," ujar Hariyadi.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya