Perempuan Eks Imigran Gelap Ini Sukses 'Menaklukkan' Amerika

Arce merupakan salah satu imigran gelap yang sukses meraih American Dream. Ia pernah menduduki kursi petinggi perusahaan keuangan bergengsi.

oleh Khairisa Ferida diperbarui 11 Des 2016, 12:00 WIB
Julissa Arce, imigran gelap yang raih sukses di Amerika Serikat (The Guardian)

Liputan6.com, Washington, DC - Dua pekan sebelum memulai pekerjaan impiannya sebagai analis keuangan di salah satu bank investasi terbesar di Amerika Serikat (AS), Goldman Sachs, pada tahun 2005 lalu, Julissa Arce dilanda kepanikan. Ia takut "kedok"nya terbongkar.

"Sejak usia 14 tahun, aku telah belajar hidup dalam realitas alternatif, sebuah realitas imajinasi di mana statusku sebagai imigran bukanlah satu masalah," tulis Arce dalam memoarnya yang berjudul My (Underground) American Dream: My True Story as an Undocumented Immigrant Who Became a Wall Street Executive seperti dikutip dari NBC News, Minggu (11/12/2016).

Arce memiliki kisah hidup luar biasa. Sebagai imigran gelap Meksiko ia berhasil menggebrak Negeri Paman Sam dengan menduduki jabatan eksekutif di Goldman Sachs. Sejak lama perusahaan keuangan itu telah dikenal sebagai salah satu yang paling bergengsi di dunia.

Pada akhirnya, Arce memang mendapat green card setelah menikahi pacaranya. Namun sekian lama ia memilih merahasiakan masa lalunya. Kini perempuan itu memutuskan untuk menceritakannya pada dunia. 

Seperti imigran gelap lainnya, Arce menjalani kehidupan ganda, terjebak di antara mimpi dan realitas bahwa dirinya tidak memiliki dokumen resmi.

Arce yang lahir di Guerrero, Meksiko, menginjakkan kaki di AS pada saat usianya 11 tahun. Ia datang bersama keluarganya dengan visa turis yang kemudian berakhir ketika usianya 14 tahun.

Ia pun memilih berjuang melewati banyak rintangan hingga akhirnya dapat menyelesaikan pendidikannya.

Ketika tengah menyelesaikan studinya di University of Texas di Austin, Arce memberanikan diri melamar untuk posisi magang di Goldman Sachs. Ia berhasil mendapatkannya dan menyelesaikan tugasnya dengan begitu baik.

Setelah lulus ia pun ditawari bekerja di perusahaan tersebut. Untuk melengkapi berbagai persyaratan yang dibutuhkan ia terpaksa memalsukan dokumen.

Hanya dalam waktu tujuh tahun, kariernya menanjak. Dari analis ia beranjak ke posisi vice presiden dan selama masa-masa inilah ia menikah serta mendapatkan green card.

Arce disebut-sebut sebagai simbol dari imigran gelap yang mengejar mimpi hingga ke Amerkia.

"Sepanjang waktu aku takut bahwa akan ada seseorang yang menanyakan sesuatu yang tidak mampu kujawab. Ketakutan itu sangat besar," ujar dia dalam memoarnya seperti dikutip dari Time.

Ia mengatakan keinginannya untuk menuliskan memoar tersebut berawal dari niatnya untuk menginspirasi banyak orang.

"Menjadi imigran gelap adalah pengalaman yang sangat kesepian," ungkapnya.

Kini setelah keluar dari Goldman Sachs perempuan berusia 33 tahun tersebut lebih dikenal sebagai penulis, aktivis, dan pembicara di kalangan masyarakat Latin pada tingkat nasional.

Melalui Ascend Educational Fund yang didirikannya, Arce membantu memberikan beasiswa dan konseling bagi imigran yang ingin belajar.

"Aku mengagumi tekad dan usahanya untuk mencapai tujuannya. Dia telah mencapai hal-hal yang mengesankan dan dia tak pernah menyerah. Dia adalah panutanku," kata sang adik, Julio Arce.

Kisah Arce ini mencuat di tengah upaya presiden terpilih AS, Donald Trump membangun tembok di perbatasan AS-Meksiko. Dalam kampanyenya, ia berulang kali menegaskan akan mendeportasi jutaan imigran gelap. Bagi Trump, imigran lekat dengan berbagai kejahatan dan pemerkosaan.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya