Semarang Sukses Jual Listrik Sampah ke PLN

Produksi sampah yang dikumpulkan di 261 TPS yang tersebar di Kota Semarang mencapai 4998,65 meter kubik per hari.

oleh Edhie Prayitno Ige diperbarui 07 Des 2016, 14:02 WIB
Hendi membayar makan siang di kantin Methan, yang menggunakan sampah sebagai alat bayar, Senin (14/3/2016)

Liputan6.com, Semarang Upaya Kota Semarang menangani masalah sampah dengan mengubahnya menjadi bernilai ekonomis mulai membuahkan hasil. Salah satunya dengan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatibarang.

Setelah melalui proses yang sangat panjang, akhirnya PT PLN (Persero) bersedia membeli listrik dari PLTSa Jatibarang Semarang.

Dalam rilis yang diterima Liputan6.com, kepastian pembelian listrik itu setelah dilakukan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara Direktur Utama PLN Sofyan Basir dengan Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi di Kantor Pusat PLN Kebayoran Baru, Jakarta, Senin, 5 Desember 2016.

Dalam kesepakatan itu, PLN bersedia membeli tenaga listrik dari pengolahan sampah di Kota Semarang seharga USD 18,77 sen atau setara Rp 2.496 per kwh untuk tegangan tinggi dan menengah. Sedangkan, untuk tegangan rendah dibeli seharga 22,43 sen.

Harga itu sesuai Permen ESDM Nomor 44 Tahun 2015. Kesepakatan pembelian listrik dari sampah ini akan berlaku selama 20 tahun.

Menurut Sofyan, pemanfaatan sampah menjadi pembangkit listrik merupakan sebuah terobosan penanganan yang holistik mengenai masalah persampahan. PLTSa di Jatibarang Semarang merupakan pengembangan thermal process atau pemanfaatan panas melalui proses thermochemical.

"Persoalannya bukan listriknya, tetapi penanggulangan sampahnya," kata Sofyan dalam rilis itu, Rabu (7/12/2016).

Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi menyebutkan, pihaknya akan terus serius menangani persoalan lingkungan. Bukan hanya sekadar menjaga lingkungan, tetapi juga memberi nilai tambah terhadap proses penanganannya. 

"Ini menunjukkan bahwa inovasi yang dikerjakan mendapat dukungan sehingga masyarakat juga akan bergembira menjalaninya. Ini sungguh bermanfaat bagi masyarakat dan lingkungan," kata Hendi kepada Liputan6.com, Rabu (7/12/2016).

Pengelolaan sampah dan penyediaan energi di Kota Semarang menjadi dua hal yang sangat penting untuk digarap. Produksi sampah yang dikumpulkan di 261 TPS yang tersebar di Kota Semarang mencapai 4.998,65 meter kubik per hari. Sedangkan, volume sampah terangkut mencapai 4.349 meter kubik atau sekitar 87%.

"Untuk menampung produksi sampah ini, TPA Jatibarang sebenarnya sudah cukup padat. Saat ini sampah organik di TPA Jatibarang sebagian diolah menjadi granul pupuk organik," ujar Hendi.

"Selain itu, pemerintah kota Semarang bekerjasama dengan Kerajaan Denmark mengolah sampah menjadi gas methana. Untuk tahap awal, hasil pengolahan berupa gas metan disalurkan ke 100 rumah tangga secara gratis," tambah dia.

PLTSa Jatibarang Semarang sudah dirintis sejak masa Wali Kota Sukawi Sutarip. Saat itu, Sukawi mendatangkan banyak sekali investor maupun konsultan penanganan sampah hingga akhirnya disepakati untuk dibangun PLTSa.

Proses pengelolaan dan pembangunan PLTSa itu akhirnya bisa terwujud saat Wali Kota Semarang dijabat Hendrar Prihadi. "Saya sempat beberapa kali diskusi dengan Pak Sukawi, mantan Wali Kota," kata Hendi.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya