Liputan6.com, Jakarta - Kementerian Sosial (Kemensos) terus memperkuat peran dalam meningkatkan kesejahteraan lanjut usia melalui program Operasi Katarak Gratis bagi Lansia Tidak Mampu.
Program ini merupakan bagian dari Asistensi Rehabilitasi Sosial (ATENSI), kebijakan nasional yang menekankan pemulihan fungsi sosial dan kemandirian warga lanjut usia.
Advertisement
"Melalui layanan ini, ribuan lansia di berbagai daerah Indonesia kembali dapat melihat dunia dengan jelas. Hingga Agustus 2025, tercatat 4.152 operasi katarak telah berhasil dilaksanakan," ujar Direktur Rehsos Lansia Kemensos Suratna melalui keterangan tertulis, Selassa (28/10/2025).
Dia menjelaskan, program ini akan terus berlanjut hingga akhir tahun dengan target tambahan di sejumlah wilayah seperti Palembang, Kabupaten Tebo dan Kabupaten Bungo (Jambi), Wonosobo (Jawa Tengah), Kabupaten Sumba Barat Daya (NTT), dan Kepulauan Aru (Maluku).
"Berbagai alasan yang menjadi penyebab pasien katarak terkendala mendapatkan penanganan. Sejumlah pasien belum dapat mengikuti operasi katarak karena keterbatasan kondisi fisik," ucap Suratna.
"Misalnya, ada penyakit seperti diabetes dan lain-lain, sehingga tidak disarankan oleh dokter," sambung dia saat penyelenggaraan Operasi Katarak Gratis bagi Lansia Tidak Mampu di RSUP dr. Mohammad Hoesin, Kota Palembang, Sumatera Selatan pada Sabtu 25 Oktober 2025.
Menurut Suratna, penyelenggaraan operasi katarak gratis ini diharapkan dapat membantu para lansia mendapatkan kembali penglihatan sehingga dapat meningkatkan kualitas kehidupannya.
"Mengapa kita laksanakan operasi Katarak? Ini supaya memberikan dampak positif pada kehidupan masyarakat, khususnya lanjut usia," kata dia.
"Orang lanjut usia dengan penglihatan yang baik dapat kembali melakukan kegiatan yang mereka sukai, dapat menambah penghasilan, dan menjalani kehidupan dengan lebih bahagia dan sejahtera. Saya berharap acara ini dapat menjadi bagian yang penting dari kegiatan sosial pada umumnya, untuk meningkatkan kualitas hidup lansia," sambung Suratna.
Katarak jadi Penyebab Utama Kebutaan di Indonesia
Suratna menyebut, katarak menjadi penyebab utama kebutaan di Indonesia, dengan kontribusi mencapai 80 persen dari seluruh kasus kebutaan nasional. Kondisi ini paling banyak dialami kelompok usia lanjut.
"Laporan Indonesia Longitudinal Aging Survey (ILAS) tahun 2023 secara eksplisit menyebutkan katarak sebagai salah satu penyakit yang menyebabkan keterbatasan fungsional dalam aktivitas sehari-hari pada lansia," ucap dia.
"Menurut data Kementerian Kesehatan, sebagian besar penderita tidak menjalani operasi karena tidak menyadari penyakitnya bisa disembuhkan (51,6%), tidak mampu membayar (11,6%), dan takut terhadap tindakan operasi (8,1%). Padahal, kebutaan akibat katarak bisa disembuhkan sepenuhnya melalui operasi yang aman dan cepat," sambung Suratna.
Dia mengatakan, Program Operasi Katarak Gratis merupakan implementasi nyata dari Program ATENSI, sebuah paradigma baru dalam pelayanan kesejahteraan sosial yang bersifat komprehensif dan terintegrasi.
"Melalui ATENSI, Kemensos tidak hanya menyediakan layanan medis, tetapi juga dukungan non-medis seperti transportasi, akomodasi, pendampingan sosial, hingga alat bantu pascaoperasi berupa kacamata," terang Suratna.
Gandeng Sejumlah Pihak
Menurut Suratna, Kemensos juga menggandeng Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (PERDAMI), rumah sakit pemerintah dan swasta, serta mitra CSR untuk memperluas jangkauan program.
Sementara itu, Ketua PERDAMI Sumatera Selatan Riani Erna menjelaskan program operasi katarak gratis ini diselenggarakan sebagai bentuk peringatan Hari Penglihatan Sedunia (World Sight Day) yang jatuh pada 9 Oktober.
"Alhamdulillah, program ini sekaligus untuk memperingati Hari Penglihatan Sedunia, yaitu mendukung program Vision 2020. Katarak itu penyakit yang sebetulnya bisa kita cegah, bisa kita tunda, bisa kita obati," kata dia.
"Hari ini kita dapat pasien lebih kurang 95 orang yang terdata, dan akan kita operasi dalam waktu satu hari. Dari mulai pagi jam 7 sampai mungkin sekitar jam 4 sore sudah kita laksanakan. Semoga hasilnya akan baik sesuai dengan yang diharapkan," sambung Riani.
Lebih lanjut Riani menjelaskan metode yang digunakan dalam melakukan operasi katarak ini minimal luka dan selesai dalam waktu singkat.
"Kalau menggunakan metode yang konvensional, itu menggunakan metode yang ada luka insisi yang besar. Ada teknik penjahitan. Tapi kita menggunakan metode yang small insisi, dan satu lagi dengan menggunakan mesin PK emulsifikasi," papar dia.
"Hanya membuat luka kecil lebih kurang 3 mm dari tepi bagian kornea. Kita bisa mengambil, mengangkat bagian katarak yang terjadi mengalami kekeruhan tadi. Jadi itu minimal invasif dan juga tidak menimbulkan rasa nyeri. Setelahnya, pasien bisa beraktivitas secara normal. Waktunya hanya sebentar, lebih kurang 10-20 menit sampai terselesai tindakan operasinya," tutur Riani.
Riani dan tim dokter mengaku senang bisa terlibat dalam kegiatan ini. Mereka ikut bahagia saat melihat pasien bisa mendapatkan kembali penglihatannya.
"Kami merasa bahagia saat pasien bisa melihat lagi. Terutama lansia yang tadinya tidak bisa melihat cucunya. Mungkin dia tidak pernah bisa gendong cucunya. Sekarang jadi bisa melihat wajah cucunya. Itu dia sangat bahagia sekali," kata dia.
"Hal ini bisa membuat kebanggaan bagi kami sebagai tenaga medis. Bisa membantu mereka untuk melihat kembali yang selama ini mungkin sudah tidak terobati. Dan itu menjadi salah satu berkah yang bisa kami berikan sebagai dokter mata," sambung Riani.
Kolaborasi Lintas Sektor
Kemudian, Manajer Tim Kerja Pelayanan Penunjang RSUP dr. Mohammad Hoesin, Erwin Syahputra menjelaskan rumah sakit tersebut sangat memadai untuk memfasilitasi operasi katarak.
"RSUP dr. Mohammad Hoesin ini salah satu rumah sakit terbesar yang ada di Sumatra, baik dari sisi layanan medis maupun dari sisi peralatan. Rumah sakit ini sudah sangat sering melakukan operasi katarak. Kami memiliki cukup banyak kamar operasi dengan total 19 kamar operasi, didukung oleh dokter-dokter ahli," ucap Erwin.
Erwin menegaskan RSUP dr. Mohammad Hoesin mendukung program pemerintah, khususnya untuk kesehatan masyarakat.
"Jadi kalau ada kegiatan-kegiatan seperti ini kami dari RSUP dr. Mohammad Hoesin siap men-support, siap memfasilitasi untuk meningkatkan derajat kesehatan mata masyarakat. Hal ini juga didukung penuh oleh Kementerian Sosial dan didukung juga oleh AMCF," ucap dia.
"Semoga kegiatan-kegiatan seperti ini bisa dilakukan berkelanjutan, sehingga penerima manfaat juga akan lebih luas dan masyarakat kita derajat kesehatan, terutama kesehatan matanya, dapat meningkat," jelas Erwin.
Terselenggaranya kegiatan Operasi Katarak Gratis bagi Lansia Tidak Mampu di RSUP dr. Mohammad Hoesin, Kota Palembang ini atas kerja sama dengan Asian Muslim Charity Foundation (AMCF) dan Karang Taruna setempat.
Salah satu Perwakilan AMCF Muhammad Zainuddin Nawi menjelaskan, keterlibatan pihaknya dalam kegiatan operasi katarak gratis ini sejalan dengan tujuan AMCF yaitu untuk memberikan bantuan kemanusiaan.
"AMCF yang singkatnya dari kata 'Asia Muslim Charity Foundation' atau dalam bahasa Arab, 'Muasisat Muslimi Asia Al-Khairiyah,' suatu lembaga yang salah satu tujuannya adalah kemanusiaan, untuk memberikan bantuan atau manfaat kepada orang yang membutuhnya, khususnya di Indonesia," kata dia/
"Salah satu program yang dimiliki oleh AMCF adalah Bakti Sosial Operasi Katarak. Alhamdulillah, di Sumatra sudah 5 kali atau di bagian Sumatra Selatan ada tiga kali, di Bangka dengan Perdami," sambung Zainuddin.
Zainuddin mengatakan donatur AMCF berasal dari Dubai. Sebelum terlibat kegiatan sosial di RSUP dr Mohammad Hoesin, pihaknya terlebih dahulu berkoordinasi dengan Kementerian Sosial dan Kementerian Kesehatan RI.
Lalu, perwakilan Karang Taruna Kota Palembang Alvian memberikan apresiasi atas penyelenggaraan kegiatan operasi katarak gratis di RSUP dr. Mohammad Hoesin.
"Kami di sini dalam rangka bulan bakti Karang Taruna, bulan bakti yang ke-65. Kami sini bekerja sama dengan Kemensos, Bina Sosial, dengan berbagai rangkaian kegiatan yang sudah kami lakukan. Dengan adanya program operasi katarak gratis ini, kami dari Karang Taruna, mengapresiasi sangat luar biasa karena benar-benar menyentuh sampai lapisan bawah," jelas Alvian.
Alvian berharap kegiatan ini bisa dilakukan dengan cakupan yang lebih luas lagi agar dapat menjangkau lebih banyak masyarakat yang memerlukan bantuan.
Salah satu pasien pada program Operasi Katarak Gratis bagi Lansia Tidak Mampu di RSUP dr. Mohammad Hoesin adalah Trisila.
"Saya senang bisa ikut operasi katarak gratis. Awalnya, saya dapat info dari anak saya bahwa ada operasi katarak gratis di sini," kata Trisila yang berusia 65 tahun.
"Enggak sakit rasanya. Nah dibilang dokter katanya yang mata sebelah kiri dulu, karena enggak bisa melihat sama sekali. Kalau yang kanan ini masih kelihatan. Saya berdoa saja, semoga sembuh," tutup dia.
Program Operasi Katarak Gratis bagi Lansia Tidak Mampu menjadi wujud nyata komitmen pemerintah dalam menghadirkan keadilan sosial dan pelayanan yang inklusif bagi seluruh lapisan masyarakat.
Melalui sinergi lintas sektor antara Kementerian Sosial, PERDAMI, rumah sakit, lembaga kemanusiaan, dan elemen masyarakat seperti Karang Taruna, kegiatan ini bukan hanya mengembalikan penglihatan para lansia, tetapi juga mengembalikan harapan dan kemandirian mereka.