Mentan Amran: Sepanjang Tahun Ini RI Tak Impor Beras

Dari data Badan Pusat Statistik (BPS), Indonesia tercatat mengimpor beras senilai US$ 475,54 juta sepanjang Januari-September 2016.

oleh Fiki Ariyanti diperbarui 21 Okt 2016, 13:46 WIB
Pekerja memanggul karung Beras milik Badan Urusan Logistik (Bulog) di Gudang Bulog kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara, Selasa (7/6). Bulog memiliki stok beras sebanyak 2,1 juta ton. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman gerah dengan kabar mengenai impor beras oleh Indonesia. Ia menegaskan, bahwa pemerintah tidak mengeluarkan izin maupun rekomendasi impor beras di tahun ini karena stok beras dari dalam negeri sangat cukup untuk memenuhi kebutuhan.

"Heboh soal impor beras, ini informasi yang keliru. Harus diluruskan, bahwa tidak ada impor dan tidak ada rekomendasi impor beras di 2016," tegas Amran saat Konferensi Pers 2 Tahun Pemerintahan Jokowi-JK di Kantor Kepala Staf Kepresidenan, Jakarta, Jumat (21/10/2016).

Menurutnya, impor 1 juta ton beras merupakan program di tahun lalu. Pemerintah, kata Amran, hanya membeli beras impor sesuai dengan kebutuhan, sehingga masuknya bahan pangan tersebut tidak langsung sekaligus. Datang ke Indonesia secara bertahap.

"Ternyata beras impor ini masuk ke Indonesia bulan Januari, padahal itu sebenarnya cadangan beras kita," ‎ucap Amran.

Dari data Badan Pusat Statistik (BPS), Indonesia tercatat mengimpor beras senilai US$ 475,54 juta sepanjang Januari-September 2016. Jumlah ini naik signifikan dari nilai impor beras di periode sama tahun lalu yang hanya US$ 99,88 juta. Impor paling besar datang dari Thailand dengan nilai US$ 216,25 juta.

Hingga saat ini, diakuinya, stok beras di gudang mencapai 2 juta ton. Stok beras tersebut sangat cukup sampai dengan Mei mendatang, termasuk untuk kebutuhan beras masyarakat sejahtera (rastra).

"Jadi stok tidak ada masalah," Amran kembali menegaskan.

Lebih jauh dijelaskannya, dari 12 komoditas strategis di Indonesia, ada 1 komoditas yang mengalami penurunan produksi, yakni kedelai. Hal ini terjadi karena faktor cuaca yang tidak mendukung sehingga produksi kedelai merosot.

"Tapi produksi padi naik 11,7 persen, jagung naik 21 persen dari biasanya 1 persen ‎sehingga impor pun turun 60 persen. Bawang juga tidak impor lagi, bahkan ekspor, cabai pun demikian. Memang tinggal kedelai saja," terang Amran.

Peningkatan produksi pertanian tersebut, sambungnya, tidak terlepas dari ketersediaan mesin-mesin pertanian yang dibagikan oleh Kementerian Pertanian (Kementan).

"Distribusi mesin pertanian naik sampai 2.000 persen dibanding sebelumnya. Ini karena regulasi kita buka, dulu selama 70 tahun lewat tender, tapi kini melalui penunjukkan langsung, jadi cepat," Amran menerangkan. (Fik/Gdn)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya