Ruhut: Cuma SBY yang Bisa Pecat Aku

Anggota Komisi III DPR ini menyebut SBY saat ini masih santai saja dengannya. Oleh sebab itu, dia pun tetap tenang hingga sekarang.

oleh Devira Prastiwi diperbarui 29 Sep 2016, 17:41 WIB
Ruhut Sitompul menggelar konferensi pers seputar pemberhentian jabatannya sebagai juru bicara Partai Demokrat, di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (22/8). Ruhut dikabarkan diberhentikan saat rapat internal partai. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Liputan6.com, Jakarta - Wakil Ketua Umum DPP Partai Demokrat Roy Suryo menyebut ada desakan dari internal partai agar Ruhut Sitompul dipecat. Ruhut pun angkat bicara. Ia menegaskan bahwa hanya Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang bisa memecatnya.

"Yang bisa mecat aku cuma SBY. Dia itu (Roy Suryo) salah naik Lion ngotot, sidang Jessica diusir, caleg enggak laku di Yogya. Orang kayak begitu kita biarin saja termehek-mehek," ungkap Ruhut di Jakarta, Kamis (29/9/2016).

Soal adanya petisi ini, Ruhut pun mengaku tidak takut. Kalau pun mendapat sanksi, dia menyebut itu takdir Tuhan. "Emangnya gue takut dipecat? Mungkin ada rencana Tuhan yang jauh lebih besar," ujar dia.

Anggota Komisi III DPR ini menyebut SBY saat ini masih santai saja dengannya. Karena itu, dia pun tetap tenang hingga sekarang.

"Sampai sekarang santai-santai, tidak ada masalah. Yang bisa pecat aku hanya Ketua Umum," papar Ruhut.

Sebelumnya, Wakil Ketua Umum DPP Partai Demokrat Roy Suryo mengatakan Komite Pengawas (Komwas) dan Dewan Kehormatan (Wanhor) akan segera menentukan sanksi bagi Ketua DPP Partai Demokrat Ruhut Sitompul.

"Komwas dan Wanhor PD sedang bekerja, Insya Allah sudah akan segera ditentukan sanksinya. Di internal Partai Demokrat, muncul petisi pemecatan Ruhut yang beredar di grup WhatsApp. Petisi tersebut didukung oleh hampir semua anggota partai," jelas Roy.

Sedangkan mengenai sanksinya, Roy menjelaskan partai akan taat pada Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) serta menyerahkan seluruhnya kepada Komwas dan Wanhor untuk memutuskan sesuai Pakta Integritas.

Kisruh ini bermula ketika Ruhut memilih bersikap berseberangan dengan keputusan partai terkait Pilkada DKI Jakarta 2017. Ruhut terang-terangan mendukung Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok dan Djarot Saiful Hidayat, sementara Partai Demokrat serta tiga partai politik (parpol) lainnya mengusung Agus Harimurti Yudhoyono dan Sylviana Murni.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya